Skip navigation

Crocodylus porosus

Kerajaan: Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Sauropsida

Ordo : Crocodilia

Famili : Crocodylidae

Genus : Crocodylus

Spesies : C. porosus

Nama binomial : Crocodylus porosus

Ada juga yang menyebut buaya bekatak adalah sejenis reptil yang hidup di daerah  muara. Habitatnya dapat ditemukan di hampir seluruh perairan Indonesia. Memiliki moncong cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Sedang panjang tubuh hingga ekor bisa mencapai 12 meter.

Buaya muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator mississipiensis). Penyebarannya pun juga “terluas” di dunia; buaya muara memiliki wilayah perantauan mulai dari perairan Teluk Benggala (Sri Lanka, Bangladesh, India) hingga perairan Polinesia (Kepulauan Fiji dan Vanuatu). Sedangkan habitat favorit untuk mereka adalah perairan Indonesia dan Australia.

Buaya ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik belakang kepalanya yang kecil ataupun tidak ada, sisik dorsalnya berlunas pendek berjumlah 16-17 baris dari depan ke belakang biasanya 6-8 baris. Tubuhnya berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada yang dewasa pada sedangkan yang muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam, dan pada ekornya terdapat belang hitam dari bercak- bercak berwarna hitam (Iskandar, 2000).

Pejantan dapat tumbuh hingga 7 meter (23 kaki), namun sebagian besar adalah kurang dari 5 meter. Betina biasanya memiliki panjang kurang dari 4 meter dan dapat mulai bertelur dan membuat sarang sekitar 12 tahun. Maksimum jangka hidup tidak diketahui namun diperkirakan bahwa mereka dapat hidup setidaknya 70 sampai 100 tahun. Buaya jenis ini menempati habitat muara sungai, kadang dijumpai di laut lepas.

Makanan utamanya adalah ikan walaupun dapat menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum. Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesia. Buaya muara berkembang biak pada musim hujan (bulan Nov-Mar) dan membangun sarang yang sebagian besar dari tumbuh-tumbuhan dan gundukan tanah. Sarang biasanya terletak di rerumputan atau pinggir hutan di sepanjang sungai atau rawa air tawar. Di dalam sarang, tersimpan sekitar 5o telur dan inkubasi berlangsung antara 65 – 110 hari- Buaya betina biasanya yang menjaga sarang dengan seksama dan karenanya buaya tersebut menyembunyikan dalam kubangan terdekat. Suhu inkubasi menentukan jenis kelamin dari telur buaya yang ditetaskan, pada suhu sangat tinggi atau suhu rendah akan memproduksi buaya betina, dan suhu dari 31 – 32 derajat celcius akan menghasilkan buaya jantan. Dari telur – telur yang disimpan hanya sekitar 25% saja yang akan menetas.

Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya. Buaya muara menyukai air payau/asin, oleh sebab itu pula bangsa Australia menamakannya saltwater crocodile (buaya air asin).Selain terbesar dan terpanjang, Buaya Muara terkenal juga sebagai jenis buaya terganas di dunia.

Buaya muara adalah reptil unik di dunia, dan menggunakan sistem darah mereka untuk menghapus garam dari badan. Kelenjar di bagian belakang lidah mereka berair mengeluarkan kelebihan garam apabila hewan yang hidup di lingkungan yang sangat asin.

Buaya muara juga merupakan salah satu dari sedikit reptil yang memiliki empat ruang jantung (seperti manusia) dan memiliki kemampuan untuk memperlambat denyut jantung mereka satu cute setiap tiga puluh detik atau lebih. Buaya tersebut dapat menahan nafas mereka empat sampai enam jam di dalam air. Di alam liar Queensland Australia, satu buaya telah diamati dapat menyelam dan menahan nafasnya dalam air selama tiga jam dan sepuluh menit. Buaya muara memiliki tiga pelindung yang jelas di kelopak mata disebut selaput nictitating. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat sambil berenang. Berenang sambil melihat adalah “gaya buaya “. Panjang ekor buaya muara adalah 49,5% dari total panjang tubuhnya, terpanjang dari semua jenis buaya.

Status :           CITES : Apendiks II (Iskandar, 2000).

Buaya Muara termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:

  1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));

Sumber:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara, warta Pasar Ikan, Dir. Pemasaran Dalam Negeri, Dirjen P2HP, DKP, 2009
  2. http://ksh.biologi.ugm.ac.id/index.php
  3. http://www.iucncsg.org/ph1/modules/Publications/ActionPlan3/ap2010_22.html
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara
  5. http://natuna.org/buaya-muara.html

Axis kuhlii

Jenis rusa di Indonesia adalah Rusa Timor (Cerfus temurensis), Rusa Sambar (Cerfus unicolor), rusa Bawean (Axis kuhlii), Kijang (Muntiakus muntjak), dan Rusa Totol (Axsis axsis). Rusa tersebut tersebar diseluruh wilayah nusantara terutama di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara serta Irianjaya.

Empat jenis asli Indonesia terdiri dari rusa Timor, rusa Sambar, rusa Bawean dan Kijang. Berdasarkan bentuk strukturnya Sambar memiliki tubuh yang sangat besar diikuti rusa Timor dan rusa Bawean, sementara Kijang merupakan jenis rusa yang paling kecil.

Rusa Bawean pertama kali diidentifikasi pada tahun 1845 sebagi Cervus Kuhlii. Bemmel (Semiadi, 1999) menyebutkan tentang klasifikasi rusa Bawean adalah sebagai berikut:

Ordo: Artiodactyla
Sub ordo: Ruminansia
Infra ordo: Pecora
Famili: Cervidae
Sub family: Cerfinae
Genus: Axis
Spesies: Axis Kuhlii

MORFOLOGI
Morfologi Rusa Bawean ( Axis kuhlii) sebagai berikut :
1. TINGGI BADAN 60 – 70 Cm
2. PANJANG BADAN 105 – 115 Cm
3. BERAT BADAN ± 50 Kg
4. PANJANG EKOR BERKISAR 20 Cm BERWARNA COKLAT DAN KEPUTIHAN DILIPATAN BAGIAN DALAMNYA
5. CIRI ISTEMEWA LAINNYANYA ADALAH ADANYA GIGI TARING PADA RAHANG BAWAHNYA
6. BULUNYA BERWARNA COKLAT PENDEK, KECUALI PADA BAGIAN LEHER.
7. SEKITAR MATA BERWARNA PUTIH TERANG
8. DI SEKITAR MULUT BERWARNA SEDIKIT TERANG DIBANDING MUKA YANG DIPISAHKAN OLEH GARIS KEHITAMAN
9. BAHU DEPAN LEBIH RENDAH DARI PADA BAGIAN BELAKANG SEHINGGA TERKESAN MERUNDUK SEPERTI KIJANG
10. PADA ANAK RUSA SERING TERDAPAT TOTOL-TOTOL YANGA ADA DALAM WAKTU SINGKAT DAN SETELAH ITU MENGHILANG

Rusa Bawean jantan dewasa mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang.

Rusa Bawean jantan tampak samping

Ranggah mulai tumbuh pada saat rusa berumur 8 bulan. Mula-mula berupa tonjolan disamping dahinya, kemudian memanjang dan tumbuh lengkap pada umur 20-30 bulan. Selanjutnya ranggah ini akan tanggal dan digantikan oleh sepasang ranggah yang lain dengan satu cabang demikian seterusnya sampai tanduk tersebut lengkap bercabang tiga, yaitu pada saat rusa berumur 7 tahun.

FISIOLOGI
Diyakini bahwa rusa Bawean tidak memiliki masa musim kawin yang tetap. Dari hasil penelitian masa kelahiran anak rusa Bawean adalah di bulan Februari hinnga Juni, dengan masa perkawianan antara bulan Juli hingga November.

PERILAKU KAWIN
Musim kawin terjadi di bukan Juli sampai November, pada saat musim kemarau sedang berlangsung. Masa bunting 7-8 bulan dan diharapkan anak rusa akan lahir dimusim hujan yaitu sekitar Feburuari sampai Juni. Pada saat ini tumbuh-tumbuhan bertunas sehingga akan tersedia cukup makanan bagi anak dan induk yang melahirkan.
Untuk memperebutkan betina didahului dengan perkelahian diantara pejantan-pejatan. Bekas gosokan tanduk pada batang-batang pohon merupakan petunjuk bagi rusa betina akan adanya sang jantan. Sedangkan rusa betina sendiri mengeluarkan cairan dari celah-celah jarinya dengan mengandalkan penciumannya.

PERILAKU HARIAN DI HUTAN
Kegiatan hidup rusa Bawean terutama berlangsung pada malam hari (nocturnal). Rusa bawean aktif berkelana mulai pukul 17.00 sampai pukul 21.00 dan mulai menurunkan aktifitasnya pada pukul 02.00 dini hari sampai pukul 05.00 pagi. Pada siang hari rusa Bawean biasanya menghabiskan waktu untuk beristirahat.

POPULASI
Sejak pertama kali rusa Bawean ditemukan oleh para peneliti, tidak pernah dilaporkan secara rinci keadaan populasi di habitat aslinya. Catatan tertua yang membahas secara selintas tentang keadaan populasi rusa Bawean ini adalah dari hasil publikasi tahun 1953. Dilaporakan bahwa ke tika tahun 1928 dilakukan exspedisi penelitian tentang rusa ini dihabitat aslinya, para peneliti tidak dapat menemukan sekor rusapun di lapangan, terkecuali beberapa ranggah yang telah luluh yang dibawa oleh masyarakat setempat. Hal ini setidaknya menggambarkan keadaan populasi rusa yang memang mungkin rendah, disamping kemungkinan karena perilakunya yang lebih menyukai daerah bersemak dan bersembunyi. Namun hal ini (komunikasi peribadi) menyatakan bahwa semasa jaman kakeknya (era 1040an) dan dirinya (era 1960an) para pemburu lokal dalam setiap aksifitas perburuannya selalau berhasil untuk mendapatkan seekor rusa untuk setiap pemburu. Dalam suatu kelompok pemburu adalah antara satu hingga tiga orang. Sistem penangkapan adalah dengan cara pemasangan jerat leher atau lubang perangkap

Walau tidak pernah dikemukakan keadaan populasi rusa yang ada dimasa lampau. Bahwa kelestarian rusa Bawean mulai terusik sekitar tahun 1948, ketika terjadi kelaparan. Rakyat yang biasanya berlayar dan memancing dilaut , dengan aktifitas berburu dan berladang sebagi kegiatan sambilan. Akhirnya mengubah sikap hidupnya menjadi pemburu penuh guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu diduga bahwa gangguan terberat pada habitat rusa Bawean sebenarnya mulai terjadi sekitar tahun 1934 karena proses deforestarasi dengan penanaman pohon jati (Tectona garandis), yang kemudian disusul dengan penurunan populasi. Gangguan terhadap habitat asli ini terulang kembali sekitar tahun 1960an ketika terjadi penebangan pohon hutan, yang tersisa untuk ditanami pohon jati ( Halimi, komunikasi peribadi). Satu-satunya surfai yang paling intensif yang pernah dilakukan guna untuk mengatuhi keadaan populasi rusa Bawean adalah surfai yang dilakukan dari bulan September 1977 sampai Mei 1979. Dari laporan tersebut dilaporkan bahwa populasi rusa Bawean pada saat itu berkisar antara 200-400 ekor. Dari hasil surfai tersebut pula pada akhirnya beberapa daerah di Pulau Bawean dijadikan kawasan lindung catatan resmi dalam IUCN saat ini masih menggunakan data tahun 1979 yang menyatakan bahwa dihabitat aslinya jumlah rusa Bawean diperkirakn mencapai 400 ekor dan dalam penangkaran berjumlah 102 ekor yang berada dikebun binatang Surabaya dan Singapura. Penurunan populasi di alam bebas yang terjadi sejak dahulu hingga sekarang adalah sebagi akibat penurunan habitat, perburuan dan anjing liar.

HABITAT
Habitat merupakan tempat hidup populasi satwa liar untuk dapat berkembang baik dengan optimal (Djuwantoko, 1986). Habitat yang ideal bagi satwa adalah yang mencakup kebutukan biologis dan ekolologis satwa yang bersangkutan. Artinya habitat satwa dapat memenuhi kebutuhan biologis satwa ( makan, minum, berlindung ,bermain, berkembang biak ) dan dapat memenuhi kebutuhan ekologis dalam ekosistem.

Pulau Bawean sebagi habitat asli dari rusa Bawean, terletak 150 km sebelah utara Surabaya, dikawasan Laut Jawa. Luas total Pulau Bawean sekitar 190 km² dengan daerah yang bergunung (400-646 m dpl) berada di sekitar barat dan tengah pulau. Musim kemarau berlangsung mulai bulan Agustus hingga November dan dilanjutkan dengan musim penghujan dengan disertai angin Berat yang kencang pada awal musim penghujan.

Bentangan pegunungan yang ada mempunyai kelerengan antara 5%-75%, namun sejak tahun 1934 banyak areal pegunungan yang vegetasinya berganti dengan pohon jati. Daerah inilah yang menjadi sisa habitat asli rusa Bawean.

JENIS-JENIS MAKANAN RUSA BAWEAN DI PENANGKARAN BATU GEBANG

Nama lokal :
1. Daun Anjhujhu
2. Tale Caceng
3. Daun Gundang
4. Daun Nangka
5. Daun Kenyang-kenyang
6. Daun Gheddhung
7. Rumput Gajah
8. Rumput Ladang
9. Tale Atta
10. Daun ampelas
11. Daun lambese
12. Daun andudur
13. Daun pelle
14. Daun ampere
15. Rumput lending-ledingan
16. Daun kangkung tajhin
17. Rumput lapeddhung
18. Daun kacang
19. Buah nangka
20. Buah gheddheng
21. Buah pellem dan masih banyak jenis daun,rumput, dan buah2an lainnya.

sumber data : http://rusabawean.com/tentang-rusa-bawean-lengkap.html

hehe… total copy-paste nih.. biarin deh, jarang-jarang dapet informasi lengkap kayak gini..

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Reptilia

Ordo: Testudines

Famili: Cheloniidae

Genus: Chelonia

Latreille dalam Sonnini & Latreille, 1802

Spesies: Chelonia mydas

Nama binomial

Chelonia mydas

(Linnaeus, 1758)

Chelonia mydas, atau yang biasanya dikenal dengan nama Penyu Hijau adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Hewan ini adalah satu-satunya spesies dalam golongan Chelonia. Mereka hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik.

Secara morfologi, penyu mempunyai keunikan-keunikan tersendiri dibandingkan hewan-hewan lainnya.

Tubuh penyu terbungkus oleh tempurung atau karapas keras yang berbentuk pipih serta dilapisi oleh zat tanduk. karapas tersebut mempunyai fungsi sebagai pelindung alami dari predator.

Penutup pada bagian dada dan perut disebut dengan Plastron.

Ciri khas penyu secara morfologis terletak pada terdapatnya sisik infra marginal (sisik yang menghubungkan antara karapas, plastron dan terdapat alat gerak berupa flipper).

Flipper pada bagian depan berfungsi sebagai alat dayung dan flipper pada bagian belakang befungsi sebagai alat kemudi.

Pada penyu-penyu yang ada di Indonesia mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dari warna tubuh, bentuk karapas, serta jumlah dan posisi sisik pada badan dan kepala penyu.

Penyu mempunyai alat pecernaan luar yang keras, untuk mempermudah menghancurkan, memotong dan mengunyah makanan.

Penyu hijau merupakan jenis penyu yang paling sering ditemukan dan hidup di laut tropis. Dapat dikenali dari bentuk kepalanya yang kecil dan paruhnya yang tumpul.

Ternyata nama penyu hijau bukan karena sisiknya berwarna hijau, tapi warna lemak yang terdapat di bawah sisiknya berwarna hijau. Tubuhnya bisa berwarna abu abu, kehitam-hitaman atau kecoklat- coklatan. Daging jenis penyu inilah yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia terutama di Bali. Mungkin karena orang memburu dagingnya maka penyu ini kadang-kadang pula disebut penyu daging. (Nuitja, 1992).

Berat penyu hijau dapat mencapai 400 kg, namun di Asia Tenggara yang tumbuh paling besar sekitar separuh ukuran ini. Penyu hijau di Barat Daya kepulauan Hawai kadang kala ditemukan mendarat pada waktu siang untuk berjemur.

Anak-anak penyu hijau (tukik), setelah menetas, akan menghabiskan waktu di pantai untuk mencari makanan. Tukik penyu hijau yang berada di sekitar Teluk California hanya memakan alga merah. Penyu hijau akan kembali ke pantai asal ia dilahirkan untuk bertelur setiap 3 hingga 4 tahun sekali. Ketika penyu hijau masih muda mereka makan berbagai jenis biota laut seperti cacing laut, udang remis, rumput laut juga alga. Ketika tubuhnya mencapai ukuran sekitar 20-30 cm, mereka berubah menjadi herbivora dan makanan utamanya adalah rumput laut (Nuitja, 1992).

 

Reproductive Behaviour

Musim peneluran penyu hijau di suatu tempat berbeda dengan di tempat lain. Di Indonesia musim peneluran penyu Hijau berlangung sepanjang tahun dengan puncak musim yang berbeda di setiap daerah. Interval bertelur penyu Hijau berkisar antara 12 – 15 hari dan sebagian besar penyu Hijau bertelur antara 3 – 7 kali dalam setiap musim peneluran (Helmstetter, 2005). Hasil penelitian Nuitja (1983) menunjukkan bahwa penyu Hijau yang bertelur di pantai Pangumbahan mempunyai interval antara 3 – 16 hari.

Induk penyu tidak selalu kembali untuk bertelur pada tahun berikutnya. Setelah beberapa bulan musim peneluran induk penyu akan kembali ke daerah pakan dan mulai mempersiapkan musim kawin selanjutnya. Durasi waktu antara musim reproduksi dengan musim reproduksi selanjutnya didefinisikan sebagai interval remigrasi. Menurut Limpus (1985) rata-rata interval remigrasi induk penyu bervariasi dari tiap spesies. Induk penyu Hijau akan kembali untuk bertelur setelah 1 hingga 9 tahun dan bahkan lebih lama lagi (Limpus et al., 1984b, Limpus 1995a). Di Florida induk penyu Hijau akan kembali bertelur antara 2, 3, atau 4 tahun berikutnya (National Marine Fisheries Service, 1998). Begitu juga di Hawaii, induk penyu Hijau kembali lagi ke pantai untuk meletakkan telurnya setelah 2 hingga 4 tahun (Hirth, 1962). Sampai saat ini belum ada penjelasan apakah pejantan dan betina penyu Hijau menggunakan skala waktu yang sama untuk bereproduksi.

Penyu pada umumnya bertelur di pantai pada petang hari atau dalam keadaan gelap. Proses peneluran penyu berlangsung pada pukul 18:00-06:00 hari berikutnya (Nuitja, 1983). Lama proses peneluran berkisar antara 1- 3 jam. Ada kalanya penyu menuju ke pantai tidak untuk bertelur akan tetapi hanya mensurvei tempat sebelum induk penyu meletakkan telurnya, kondisi ini disebut non-nesting emergence (memeti).

Menurut Miller (1997) aktivitas ketika penyu bertelur meliputi;

1. Saat Muncul Dari Laut (Emergence)

Suatu keadaan ketika penyu baru saja muncul dari laut dan melihat kondisi pantai apakah tempat tersebut aman sebagai tempat bertelur.

2. Merangkak Menuju Pantai (Crawling)

Setelah kondisi lingkungan dirasa aman untuk bertelur, penyu bergerak menuju pantai untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur.

3. Menggali Lubang Badan (Digging Body Pit)

Ketika penyu telah menemukan tempat yang sesuai untuk bertelur maka penyu akan membersihkan tempat tersebut dan membuat lubang badan.

4. Menggali Lubang Telur (Digging eggs chamber)

Setelah selesai membuat lubang badan, induk penyu akan menggali lubang telur untuk meletakkan telurnya.

5. Bertelur (Laying egg).

Induk penyu akan meletakkan telurnya pada lubang telur tersebut. Dalam satu kali oviposisi induk telur akan mengeluarkan dua hingga tiga butir telur.

6. Menutup Lubang Telur (Covering eggs chamber)

Selesai meletakkan telurnya, induk penyu akan langsung menutup lubang telur tersebut.

7. Menutup Lubang Badan (Covering body pit)

Setelah selesai menutup lubang telur induk penyu akan melanjutkannya dengan menutup lubang badan agar nampak seperti semula.

8. Penyamaran Sarang (Camuflase)

Untuk menghindari sarang penyu dari gangguan predator, induk penyu akan menyamarkan sarangnya.

9. Kembali Ke Pantai (Back to the sea)

Setelah selesai bertelur, induk penyu akan meninggalkan sarangnya dan kembali ke laut.

Pada kondisi emergence, crawling, digging body pit dan digging eggs chamber, induk penyu sangat sensitif terhadap kondisi sekeliling sehingga pada kondisi ini harus dihindari aktifitas yang dapat menyebabkan induk penyu mengurungkan niatnya untuk bertelur. Setelah induk penyu meletakkan telurnya yang pertama (laying eggs), induk penyu tidak akan menghiraukan gangguan yang ada, pada kondisi ini pengukuran panjang dan lebar karapas dapat dilakukan.

Untuk lebih meningkatkan keberhasilan penetasan semi alami, ada beberapa faktor yang erat kaitannya dengan keberhasilan tersebut perlu mendapat perhatian, yaitu: difusi gas, kelembaban, temperatur sarang dan faktor biotik (Miller, 1999).

SUMBER : Nuitja, I., N., S., 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. Institut Pertanian Bogor. Bogor. dalam http://zonaikan.wordpress.com/2010/10/20/sifat-dan-habitat-penyu-hijau/

http://www.indonesiaindonesia.com/f/6256-populasi-penyu-hijau-chelonia-mydas-pantai/

http://id.wikipedia.org/wiki/Penyu_hijau

http://seaturtleindonesia.blogspot.com/2010/02/teknik-molekuler-dalam-populasi-penyu.html

(maaf, untuk beberapa pustaka tidak ada sumber dan link-nya karena artikel ini pun hasil dari copas dari link yang di cantumkan di atas)

Dah lama juga blog ini gak di update… kasih info tentang elang hitam ah… daripada entar lupa…
Elang Hitam
Elang Hitam adalah sejenis burung pemangsa dari suku Accipitridae, dan satu-satunya anggota marga Ictinaetus. Dinamai demikian karena warna bulunya yang seluruhnya berwarna hitam. Meski ada pula beberapa jenis elang yang lain yang juga berwarna hitam.
Identifikasi

  1. Burung ini berukuran besar, dengan panjang (dari paruh hingga ujung ekor) sekitar 70 cm. Sayap dan ekornya panjang, sehingga saat terbang terlihat sangat besar.
  2. Seluruh tubuh berwarna hitam, kecuali kaki dan sera (pangkal paruh) yang berwarna kuning. Sebetulnya terdapat pola pucat di pangkal bulu-bulu primer pada sayap dan garis-garis samar di ekor yang bisa terlihat ketika burung ini terbang melayang, namun umumnya tak begitu mudah teramati. Jantan dan betina berwarna dan berukuran sama.
  3. Sayap terbentang lurus, sedikit membentuk huruf V, dengan pangkal sayap lebih sempit daripada di tengahnya, serta bulu primer yang terdalam membengkok khas, membedakannya dari elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk yang hitam. Elang hitam juga sering terbang perlahan, rendah dekat kanopi (atap tajuk) hutan.Bulu Primar lebih menjari.
  4. Terdapat 2 pose terbang, saat gliding (meluncur) dan soaring (mengintai). Saat gliding bulu paling ujung menekuk kedalam, dan saat soaring bulu ini terbentang dan terlihat menyamping.
  5. Bunyi meratap berulang-ulang, biasanya disuarakan sambil terbang tinggi berputar-putar, klii-ki …klii-ki atau hi-li-liiiuw.
  6. Burung remaja berwarna pucat, dengan coret-coret kuning pucat di sisi bawah tubuh dan sayap.
  7. Sarang berukuran besar terbuat dari ranting-ranting dan dedaunan yang tersusun tebal, diletakkan pada cabang pohon yang tinggi di hutan yang lebat. Bertelur satu atau dua butir, bulat oval, sekitar 65 x 51 mm, berwarna kuning tua bernoda coklat kemerahan. Di Jawa berbiak pada sekitar bulan Mei.
Penyebaran
  1. Elang hitam menyebar luas mulai dari India, Sri Lanka hingga Asia Tenggara, Sunda Besar, Sulawesi dan Maluku.
  2. Burung ini hidup memencar di dataran rendah, hutan perbukitan hingga wilayah yang bergunung-gunung pada ketinggian sekitar 1.400 m (di Jawa hingga sekitar 3.000 m) dpl.
  3. Memangsa aneka jenis mamalia kecil, kadal, burung dan terutama telur, elang hitam dikenal sebagai burung perampok sarang. Melayang indah, burung ini kerap teramati terbang berpasangan di sisi bukit atau lereng gunung yang berhutan. Dengan tangkas dan mudah elang ini terbang keluar masuk dan di sela-sela tajuk pepohonan. Cakarnya yang tajam terspesialisasi untuk menyambar dan mencengkeram mengsanya dengan efektif.
Status konservasi

Sebagai burung pemangsa, elang hitam menduduki puncak rantai makanan dalam ekosistemnya. Meskipun populasinya masih terbilang banyak, burung ini menyebar terbatas di wilayah-wilayah yang berhutan. Elang hitam dilindungi oleh undang-undang RI. Sedangkan menurut IUCN, burung ini berstatus LC (least concern, beresiko rendah).
Jenis yang serupa
  1. Elang brontok (Spizaetus cirrhatus), bentuk yang hitam.
  2. Elang ular (Spilornis cheela), ketika bertengger.
Literatur
^ MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen 2000. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI dan BirdLife IP. Bogor. ISBN 979-579-013-7. Hal. 95.
^ MacKinnon, J. 1993. Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta. ISBN 979-420-150-2. Hal. 102.
^ Hoogerwerf, A. 1949. De Avifauna van de Plantentuin te Buitenzorg. de Koninklijke Plantentuin van Indonesie. Buitenzorg (Bogor). Hal. 22.
^ Noerdjito, M. dan I. Maryanto. 2001. Jenis-jenis Hayati yang Dilindungi Perundang-undangan Indonesia. Cet-2. Puslit Biologi LIPI. Bogor. ISBN 979-579-043-9. Hal. 46.
^ BirdLife International. 2004. Ictinaetus malayensis. In: IUCN 2007. 2007 IUCN Red List of Threatened Species.. Diakses 25/12/2007.
^ Demi Menyelamatkan Si Anak Elang Hitam, artikel harian Kompas Senin, 16 Mei 2005
^ Menjaga Elang Hitam di Lereng Merapi, artikel harian Kompas Selasa, 25 April 2006

Penelitian yang berkaitan dengan Elang Hitam (PDF) :
Jarulis

burung-burung-di-kawasan-pegunungan-arjuna-welirang-taman-hutan1

Penggunaan Tipe-Tipe Habitat oleh Elang di Kawasan Panaruban Tangkuban Perahu Jawa Barat

Hutan Lindung Bisa Digunakan Untuk Kegiatan Bisnis

dari: detikfinance

Jakarta – Pemerintah akhirnya mengeluarkan PP (Peraturan Pemerintah) tentang Penggunaan Kawasan Hutan bernomor 24 Tahun 2010. Dalam peraturan tersebut, ada 2 kawasan hutan yang dapat digunakan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yaitu kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.

PP ini telah disahkan dan ditandatangani oleh Presiden SBY pada tanggal 1 Februari 2010.

Menurut aturan baru yang dikutip detikFinance, Jumat (19/3/2010), kegiatan yang dapat dilakukan di 2 kawasan tersebut menurut peraturan ini adalah:

  • Religi
  • Pertambangan
  • Instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, serta teknologi energi baru dan terbarukan
  • Pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, dan stasiun relay televisi
  • Jalan umum, jalan tol, dan jalur kereta api
  • Sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana transportasi umum untuk keperluan pengangkutan hasil produksi
  • Sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan saluran air bersih dan/atau air limbah
  • Fasilitas umum
  • Industri terkait kehutanan
  • Pertahanan dan keamanan
  • Prasarana penunjang keselamatan umum
  • Penampungan sementara korban bencana alam.

Untuk kegiatan pertambangan, dalam PP tersebut diatur, kegiatan pertambangan yang dapat dilakukan di kawasan hutan produksi adalah:

  • Penambangan dengan pola pertambangan terbuka
  • Penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah

Sementara kegiatan pertambangan yang dapat dilakukan di kawasan hutan lindung hanya dapat dilakukan penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah dengan ketentuan dilarang mengakibatkan:

  • Turunnya permukaan tanah
  • Berubahnya fungsi pokok kawasan hutan secara permanen
  • Terjadinya kerusakan akuiver air tanah.

(dnl/qom)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.