OrangUtan

Orangutan Sumatra

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia. Mereka lebih kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat 100 pon.

Perilaku

Dibandingkan Orangutan Kalimantan, orangutan Sumatra lebih menyukai pakan buah-buahan dan terutama juga serangga. Buah yang disukai termasuk buah beringin dan nangka. Mereka juga makan telur burung dan vertebrata kecil. Orangutan Sumatra lebih singkat dalam makan di batang dalam suatu pohon.

Orangutan Sumatra liar di rawa Suaq Balimbing diamati menggunakan alat. Seekor orangutan mematahkan cabang pohon yang panjangnya sekitar satu kaki, menyingkirkan ranting-rantingnya dan mengasah ujungnya. Lalu ia menggunakan batang itu untuk mencungkil lubang pohon untuk mencari rayap. Mereka juga menggunakan batang itu untuk memukul-mukul dinding sarang lebah. Selain itu, orangutan juga menggunakan alat untuk makan buah. Saat buah pohon Neesia matang, buah itu keras, kulit yang bergerigi melunak hingga ia jatuh terbuka. Di dalamnya ada biji yang disukai orangutan, namun mereka diselimuti rambut yang mirip serat kaca yang sakit bila termakan. Orangutan pemakan Neesia akan memilih batang lima inci, mengulitinya dan kemudian menghilangkan bulu-bulu itu dengannya. Bila buah itu sudah bersih, kera itu akan makan bijinya menggunakan batang itu atau jemarinya. Meskipun rawa yang serupa ada di Kalimantan, orangutan Kalimantan liar belum dilihat menggunakan alat macam ini.

NHNZ memfilemkan orangutan Sumatra untuk acaranya Wild Asia: In the Realm of the Red Ape; acara itu mempertunjukkan salah satu orangutan menggunakan peralatan sederhana, ranting, untuk menjangkau makanan dari tempat yang sulit. Ada juga serangkaian gambar seekor binatang menggunakan daun besar sebagai payung saat terjadi hujan badai tropis

Orangutan Sumatra juga lebih suka diam di pohon daripada sepupunya dari Kalimantan; hal ini mungkin karena adanya pemangsa seperti harimau Sumatra. Mereka bergerak dari pohon ke pohon bergelantungan menggunakan lengannya.

Daur Hidup

Orangutan Sumatra lebih sosial daripada orangutan Kalimantan. Orangutan-orangutan ini berkumpul untuk makan sejumlah besar buah di pohon beringin. Akan tetapi, orangutan jantan dewasa umumnya menghindari kontak dengan jantan dewasa lain. Pemerkosaan umum terjadi diantara orangutan. Jantan sub-dewasa akan mencoba kawin dengan betina manapun, meskipun mungkin mereka gagal menghamilinya karena betina dewasa dengan mudah menolaknya. Orangutan betina dewasa lebih memilih kawin dengan jantan dewasa

Rerata jangka waktu kelahiran orangutan Sumatra lebih lama daripada orangutan Kalimantan dan merupakan rerata jangka waktu terlama diantara kera besar. Orangutan Sumatra melahirkan saat mereka berumur sekitar 15 tahun. Bayi orangutan akan dekat dengan induknya hingga tiga tahun. Bahkan setelah itu, anaknya masih akan berhubungan dengan induknya. Kedua spesies orangutan mungkin hidup beberapa dekade; perkiraan panjang umurnya dapat melebihi 50 tahun. Rata-rata perkembangbiakan pertama P. abelii adalah sekitar 12,3 tahun tanpa ada tanda menopause.

StatusOrangutan Sumatra endemik dari pulau Sumatra dan hidupnya terbatas di bagian utara pulau itu. Di alam, orangutan Sumatra bertahan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), ujung paling utara Sumatra. Primata ini dulu tersebar lebih luas, saat mereka ditemukan lebih ke Selatan tahun 1800-an seperti di Jambi dan Padang. Ada populasi kecil di provinsi Sumatra Utara sepanjang perbatasan dengan NAD, terutama di hutan-hutan danau Toba. Survei di danau Toba hanya menemukan dua areal habitat, Bukit Lawang (didefinisikan sebagai suaka margasatwa) dan Taman Nasional Gunung Leuser. Tahun 2002, World Conservation Union menempatkan spesies ini dalam IUCN Red List dengan status kritis.

Survei baru-baru ini tahun 2004 memperkirakan ada sekitar 7.300 ekor orangutan Sumatra yang masih hidup di alam liar. Beberapa diantaranya dilindungi di lima daerah di Taman Nasional Gunung Leuser dan lainnya hidup di daerah yang tidak terlindungi: blok Aceh barat laut dan timur laut, sungai Batang Toru Barat, Sarulla Timur dan Sidiangkat. Program pembiakan telah dibuat di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di provinsi Jambi dan Riau dan menghasilkan populasi orangutan Sumatra yang baru.

Sumber : Wikipedia

Shikra Goshawk (Alap-alap)

Alap-alap atau Shikra Goshawk atau Accipiter badius

Alap-alap merupakan sejenis burung yang berkerabat dekat dengan elang dan rajawali, termasuk dalam genus Spiziapteryx dan Microhierax dari famili Falconidae.

Burung karnivora terkecil di dunia adalah Alap-alap Capung (Microhierax fringillarius) yang dapat ditemukan di Asia Tenggara, dan Microhierax latifrons yang dapat ditemukan di pulau Kalimantan. Ukurannya rata-rata sebesar 15 cm dengan berat 35 gram.

Spiziapteryx circumcincta yaitu alap-alap dengan sayap bercorak bintik-bintik berhabitat di beberapa daerah di Argentina, namun saat ini sudah tergolong dalam binatang langka.

Jenis-jenis alap-alap

Alap-alap atau Shikra Goshawk atau Accipiter badius

Semua jenis alap-alap itu dilindungi oleh pemerintah

Categories: Fauna Tag:,

Ini Khusus daftar nama untuk burung

DAFTAR NAMA SATWA YANG DILINDUNGI
List of protected faunas:
Burung/Aves

No.   Nama Daerah           Familia           Nama Inggris         Species
      Local name                              English


1.    Kasuari Kerdil        Cassuaridae       Dwarf Cassowary      Casuarius benneti
2.    Kasuari Gelambir      Cassuaridae       Double Wattled       Casuarius casuarius
      Ganda                                   Cassowary
3.    Kasuari Gelambir      Cassuaridae       Single Wattled       Casuarius unappendi-
      Tunggal                                 Cassowary            culatus
4.    Undan Kacamata        Pelecanidae       Australian Pelican   Pelecanus conspicilatus
5.    Undan Putih           Pelecanidae       Easterm White        Pelecanus onocrotalus
                                              Pelican
6.    Undan Paruh Botol     Pelecanidae       Spot Billed Pelican  Pelecanus roseus
7.    Gangsa Batu Abotti    Sulidae           Abbott's Booby       Sula abbotti
8.    Gangsa Batu Muka      Sulidae           Blue Faced Booby     Sula dactylatra
      Biru
9.    Gangsa Batu Coklat    Sulidae           Browned Booby        Sula leucogaster
10.   Gangsa Batu Kaki      Sulidae           Red Footed Booby     Sula sula
      Merah
11.   Pecuk Ular            Anhingidae        Oriental Darter      Anhinga melanogaster
12.   Bintayung P.          Freaitidae        Christmas Island     Fregata andrewsi
      Chiristmas                              Frigate Bird
13.   Kuntul Besar          Ardeidae          Greater Egret        Egretta alba
14.   Kuntul Sedang         Ardeidae          Lesser Egret         Egretta intermedia
15.   Kuntul Kecil          Ardeidae          Little Egret         Egretta garzetta
16.   Kuntul China          Ardeidae          Chinese Egret        Egretta eulophotes
17.   Kuntul Karang         Ardeidae          Pacific Reef-Egret   Egretta sacra
18.   Kuntul Kerbau         Ardeidae          Cattle Egret         Bubulcus ibis
19.   Kowak Merah           Ardeidae          Rufous night heron   Nycticorax caledonicus
20.   Bangau Hitam          Ciconiidae        Wolly necked stork   Ciconia episcopus
21.   Bluwok Putih          Ciconiidae        Milky Stork          Ibis cinereus
22.   Bangau Tongtong       Ciconiidae        Lesser Adjutant      Leptoptilos javanicus
                                              Stork
23.   Bluwok Berwarna       Ciconiidae        Painted Stork        Ibis leucocephalus
24.   Ibis putih kepala     Threskiernithe-   Black Headed ibis    Threskiornis melanocep
      hitam                 dae
25.   Ibis bahu putih       Threskiernithe-   White Shouldered     Pseudibis davisoni
                            dae               ibis
26.   Roko-roko, ibis       Threskiernithe-   Gloosy ibis          Plegadis falcinollus
      hitam                 dae
27.   Alap-alap             Accipitridae      Shikra Goshawk       Accipiter badius
28.   Alap-alap berkalung   Accipitridae      Mollucan sparrow     Accipiter erythreuchen
                                              Hawks
29.   Alap-alap Maluku      Accipitridae      Mollucan sparrow     Accipiter erytheuchen
                                              Hawks
30.   Alap-alap coklat      Accipitridae      Browned goshawk      Accipiter fasciatus
31.   Alap-alap Sulawesi    Accipitridae      Celebes Crested      Accipiter grisciceps
                                              Goshawk
32.   Alap-alap kepala      Accipitridae      White headed         Accipiter henicogrammus
      putih                                   Sparrow hawk
33.   Alap-alap punggung    Accipitridae      Black mantled        Accipiter melanochlamys
      hitam                                   Sparrws hawk
34.   Alap-alap meyer       Accipitridae      Meyer's Goshawk      Accipiter meyerianus
35.   Alap-alap kecil       Accipitridae      Celebes little       Accipiter nanus
      Sulawesi                                Sparrow hawk
36.   Alap-alap putih       Accipitridae      White goshawk        Accipiter novaehollnadiae
37.   Alap-alap kepala      Accipitridae      Grey headed          Accipiter poliocephalus
      kelabu                                  Sparrow hawk
38.   Alap-alap Sulawesi    Accipitridae      Vinous breasted      Accipiter rhodogaster
                                              Sparrow hawk
39.   Alap-alap China       Accipitridae      Chinese Goshawk      Accipiter soleonsis
40.   Alap-alap jambul      Accipitridae      Crested Goshawk      Accipiter trivingatus
41.   Alap-alap ekor        Accipitridae      Spottailed           Accipiter trinotatus
                                              Sparrow hawk
42.   Alap-alap burung      Accipitridae      Asiatic              Accipiter virgatus
                                              Sparrow hawk
43.   Alap-alap kadal       Accipitridae      Crested lizard       Aviceda jerdoni
      jambul                                  hawk
44.   Alap-alap kukuk       Accipitridae      Cuckeo Falcon        Aviceda subscriastata
                                              hawk
45.   Elang kelabu          Accipitridae      Grey faced buzzard   Butastur indicus
46.   Elang coklat          Accipitridae      Cinoamon winged      Butastur livinter
                                              buzzard
47.   Elang rawa            Accipitridae      Western march        Circus aeruginosus
                                              harrier
48.   Elang tutul           Accipitridae      Spotted harrier      Circus assimulis
49.   Elang tikus           Accipitridae      Black winged kite    Elanus caeruleus
50.   Elang China           Accipitridae      Pied harrier         Circus melanoleucus
51.   Elang laut            Accipitridae      White bellied sea    Haliaetus leucogaster
      perut putih                             eagle
52.   Elang Bondol,Wulung   Accipitridae      Brahminy kite        Haliaetus indus
53.   Elang Siul            Accipitridae      Whistling kite       Haliaetus spenurus
54.   Elang Irian           Accipitridae      New Guinea Haspy     Harpyopsis novaeguineae
                                              Eagle
55.   Elang                 Accipitridae      Hawk Eagle           Henicopernis longicauda
56.   Elang Kecil           Accipitridae      Ruffous Bellied      Hieractus kionerii
57.   Elang Kecil Australi  Accipitridae      Little Eagle         Hieractus morphodes
58.   Elang Laut kelabu     Accipitridae      Grey Headed          Ichthyophaga
                                              Fishing Eagle        Ichtyatus
59.   Elang Laut kecil      Accipitridae      Lesser Fishing       Ichthyophaga nana
                                              Eagle
60.   Elang Jambul Hitam    Accipitridae      Black Eagle          Ictinaetus malayensis
61.   Alap-alap Kelelawar   Accipitridae      Bat Hawk             Machaerhamphus alcinus
62.   Alap-alap Doria       Accipitridae      Doria's Goshawk      Magatriorochis deriae
63.   Alap-alap Malam       Accipitridae      Black Kite           Milvus migrans
64.   Alap-alap Belang      Accipitridae      Parred Honey         Pernis celebensis
                                              Buzzard
65.   Alap-alap Madu        Accipitridae      Asiatic Honey        Pernis ptilorhynchus
                                              Buzzard
66.   Elang Ular            Accipitridae      Crested Serpent      Spilornis elgini
                                              Eagle
67.   Bido Sulawesi         Accipitridae      Celebes Serpent      Spilornis rufipectus
                                              Eagle
68.   Bido Andaman          Accipitridae      Andaman Serpent      Spilornis elgini
                                              Eagle
69.   Elang Jawa            Accipitridae      Java Hawk Eagle      Spizaetus bartelsi
70.   Elang Hitam           Accipitridae      Changeble Hawk       Spizaetus cirrhatus
                                              Eagle
71.   Elang Gurne           Accipitridae      Hawk Eagle           Spizaetus gurneyi
72.   Elang Hitam Putih     Accipitridae      Black and White      Spizaetus alboniger
                                              Hawk Eagle
73.   Elang Sulawesi        Accipitridae      Hawk Eagle           Spizaetus nipalensis
74.   Elang Sulawesi        Accipitridae      Celebes Shorteres-   Spizaetus lanceolatus
      Jambul                                  ted Hawk Eagle
75.   Elang Biliton/        Accipitridae      Wallace's Hawk       Spizaetus nanus
      Elang Wallace                           Eagle
76.   Garuda Australia      Accipitridae      Wedge Tailed Eagle   Aquila audax
77.   Garuda Irian          Accipitridae      Gurney's Eagle       Aquila gurneyi
78.   Elang Ikan            Pandionidae       Osprey               Pandion haliaetus
79.   Sikap Elang           Falconidae        Peregine Falcon      Falcio peregrinus
80.   Alap-alap Macan       Falconidae        Oriental Bobby       Falcio severus
81.   Alap-alap             Falconidae        Common Kostrel       Falcio tinnunculus
82.   Alap-alap Kecil       Falconidae        Little Falcon        Falcio lengipennis
83.   Alap-alap Irian       Falconidae        Nanken Kestrel       Falcio cenchroides
84.   Alap-alap Menara      Falconidae        Spotted Kestrel      Falcio nolvecensis
85.   Elang Belalang        Falconidae        Black Legged         Microhierax fringillarius
                                              Falconet
86.   Elang Kecil Borneo    Falconidae        Bornean Falconet     Microhierax latifrons

87.   Maleo                 Magapodidae       Maleo                Macrocephalon maleo
88.   Burung Gosong         Magapodidae       Incubator Bird       Megapodius freycinet
89.   Burung Gosong         Magapodidae       Waffled Brush        Megapodius
     arfakisnus
                                              Incubstro bird
90.   Burung Gosong         Magapodidae       Bryn's Brush         Megapodius bruijni
                                              Incubator bird
91.   Burung Gosong         Magapodidae       Mollucan Srub Hern   Eulipoa wallacei   
92.   Gosong                Magapodidae       Incubator Bird       Megapodius freycinet
     affinis
93.   Gosong                Magapodidae       Incubator Bird       Megapodius
     nicobarensis
94.   Gosong                Magapodidae       Incubator Bird       Megapodius
     tenimberensis
95.   Kamur                 Magapodidae       Black Billed Brush   Telogalla
     fuscirostris
96.   Umgran                Magapodidae       Brown Collared       Telogalla jobiensis
                                              Brush Turkey
97.   Kuao                  Phasianidae       Great Argus Pheasant Argusianus argus
98.   Merak                 Phasianidae       Green Peafowl        Pavo muticus
99.   Merak Kerdil          Phasianidae       Malaysian Peacock    Polyplectron   
                                              Pheasant             malacense   
100.  Beleang Bulwor        Phasianidae       Bulwer's Wattled     Lophura bulweri 
                                              Pheasant
101.  Jenjang               Gruidae           Sarus Grane          Grus satigone
102.  Mandar Sulawesi       Ballidae          Celebes Rails        Aramidopsis plateni
103.  Trulek Jawa           Charairiidae      Javan Wattled        Venellus tricolor
                            Lapwing
104.  Blekek Asia           Scolopacidae      Asia Dowitcher       Limpodromus  
                                                                   semipalmatus
105.  Gegajahan Besar       Scolopacidae      Buraskan Curlew      Numenius arquata
106.  Gegajahan Sedang      Scolopacidae      Wimbrel              Numenius shcopus
107.  Gegajahan Paruh Besar Scolopacidae      Curlew               Numenius  
                                                                   madagascariensis
108.  Gegajahan Kecil       Scolopacidae      Little Curlew        Numenius minutus
109.  Trinil Asia           Scolopacidae      Spotted Greenshak    Tringa guttifer
110.  Trulak Lidi           Recurvirestridae  Black Winged Stilt   Himantopus    
                                                                   himantopus
111.  Wili-wili             Burhinidae        Great Reef Thick     Esacus magnirostris
                                              Knee
112.  Dara Laut Berjambul   Laridae           Chinese Crested Tern Sterna ziumermani
113.  Camar Coklat          Laridae           Brown Noody          Anous stolidus
114.  Camar Kerudi Putih    Laridae           White Capped Noody   Anous minutus
115.  Camar Hitam           Laridae           Black Noody          Anous tenuirostris
116.  Dara Laut Kumis       Laridae           Whishered Tern       Chlidonias hybrida
117.  Dara Laut Sayap       Laridae           Black Tern           Chlidonias niger
      Hitam
118.  Dara Laut Sayap       Laridae           White Winged Tern    Chlidonias 
      Putih                                                        leucopterus
119.  Dara Laut Paruh       Laridae           Gull Billed Tern     Gelochelidon  
      Hitam                                                        nilotica
120.  Camar Putih Mata      Laridae           White Tern           Gygis alba
      Cincin
121.  Dara Laut Kecil       Laridae           Little Tern          Sterna albifrons
122.  Dara Laut Kendal      Laridae           Bridled Tern         Sterna anacthetus
123.  Dara Laut Jambul      Laridae           Lesser Crested Tern  Sterna bengalensis
      Kecil
124.  Dara Laut Jambul      Laridae           Greater Crested Tern Sterna bergii
      Besar
125.  Dara Laut Dougalli    Laridae           Roseate Tern         Sterna dougalltii
126.  Dara Laut Hitam       Laridae           Sooty Tern           Sterna uscata
127.  Dara Laut Hirunda     Laridae           Common Tern          Sterna hirundo
128.  Dara Laut Tengkuk     Laridae           Black Naped Tern     Sterna sumatrana
      Hitam
129.  Junai Emas            Columbidae        Nicobar Pigoen       Caloenas nicobarica
130.  mambruk Skop Makeri   Columbidae        Grounded Pigoen      Goura scheepmakeri
131.  Mambruk biasa         Columbidae        Grounded Pigoen      Goura cirstata
132.  Mambruk Viktoria      Columbidae        Victoria Crowded     Goura victoria
                                              Pigoen
133.  Kakatua Putih Besar   Psittacidae       Greater Sulphur      Cacatua galerita  
      Jambul Kuning                           Crested Cockatoo     triton
134.  Payap                 Psittacidae       Eclectus Parrot      Lorius roratus
135.  Serindir Sulawesi     Psittacidae       Celebas Spoted       Lorius exilis
                                              Hanging Parrot
136.  Nuri Merah Kepala     Psittacidae       Black Naped Lory     Lorius domicellus
      Hitam
137.  Nuri Merah Kepala     Psittacidae       Black Naped Lory     Lorius domicellus
      Hitam
138.  Kakatua Raja,Kakatua  Psittacidae       Palm Cockatoo        Probosciger atterrimus
      hitam
139.  Kasturi Raja          Psittacidae       Peacquet's Parrot    Psittrichas fulgidus
140.  Nuri Sulawesi         Psittacidae       Muller's Parrot      Tanygnatus sumatranus
141.  Kasturi Sulawesi      Psittacidae       Orrate Lorikeet      Trichogloscus ornatus
142.  Celepuk biak          Strigidae         Biak Scops Owl       Otus manadensis beccarii
143.  Kasumba               Trogonidae        Diardi's Trogon      Harpactes diardii
144.  Kasumba Punggung      Trogonidae        Scarlet Rumped       Harpactes duvaucelli
      Ungu                                    Trogon
145.  Kasumba Kepala        Trogonidae        Red Headed           Harpactes erythrochephalus
      Merah                                   Trogon
146.  Kasumba Merah         Trogonidae        Red Naped Trogon     Harpactes kasumba
147.  Kasumba Dada Oranye   Trogonidae        Orange Breasted      Harpactes oreskios
                                              Trogon
148.  Kasumba Tinanggang    Trogonidae        Cinnamon Remped      Harpactes orrophaeus
      Cinnamas                                Trogon
149.  Kasumba Ekor Biru     Trogonidae        Blue Tailed Trogon   Harpactes reinwardtii
150.  Kasumba Kalimantan    Trogonidae        White Head's Trogon  Harpactes white headi
Categories: Uncategorized

Borrassodendron borneensis

Bindang
Borrassodendron borneensis
Nama umum

Indonesia: Bindang, budang
Borrassodendron borneensis
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus: Borrassodendron
Spesies: Borrassodendron borneensis

status : Dilindungi

 

sumber :

http://www.plantamor.com/index.php?plant=211

Categories: Flora Tag:

Harimau Sumatra

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis)

merupakan satu-satunya dari subspesies Harimau yang masih tersisa di Indonesia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Kehilangan habitat dan mangsa (Bovidae dan Cervidae) menyebabkan satwa yang hidup di pulau sumatera ini semakin terancam keberadaannya. Saat ini diperkirakan berkisar 400-500 ekor yang masih tersisa di alam (Seidenstiker,1999).

Panjang Harimau Sumatera jantan dapat mencapai 2,2 – 2,8 meter, sedangkan betina 2,15 – 2,3 meter. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, tetapi ada juga yang mencapai antara 80 – 95 cm, dan berat 130 – 255 kg. Hewan ini mempunyai bulu sepanjang 8 – 11 mm, surai pada Harimau Sumatera jantan berukuran 11 – 13 cm.

Bulu di dagu, pipi, dan belakang kepala lebih pendek. Panjang ekor sekitar 65 – 95 cm (Direktorat Pelestarian Alam, 1986 ; Hafild dan Aniger, 1984 ; Kahar, 1997 ; Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973 ; Saleh dan Kambey, 2003 ; Sutedja dan Taufik, 1993 ; Suwelo dan Somantri, 1978 ; Treep, 1973)

Belang harimau sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan.

Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.


Habitat:

Harimau Sumatera, seperti halnya dengan jenis-jenis harimau lainnya, adalah jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya di alam bebas. Kondisi mutlak yang mempengaruhi pemilihan habitat seekor harimau adalah :

  1. Adanya habitat dengan kwalitas yang baik termasuk vegetasi cover sebagai tempat berteduh dan beristirahat agar bisa terlindung dari dari panas dan sebagai tempat untuk membesarkan anak serta berburu.
  2. Terdapat sumber air, karena satwa ini hidupnya sangat tergantung pada air untuk minum, mandi, dan berenang
  3. Tersedianya mangsa dalam jumlah yang cukup.

Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :

  1. Hutan hujan tropik, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan
  2. Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar
  3. Padang rumput terutama padang alang-alang
  4. Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis
  5. Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian
  6. Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hiutan gambut.

Makanan:

Harimau Sumatera termasuk jenis Carnivora yang biasanya memangsa : Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), dan Babi hutan liar (Sus sp.). Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca irus), Langur (Presbytis entellus),Landak (Hystrix brachyura),Trenggiling (Manis javanica), Beruang madu (Heralctos malayanus), jenis-jenis Reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, dan kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya.

Hewan peliharaan atau ternak yang juga sering menjadi mangsa harimau adalah Kerbau, kambing, domba, sapi, Anjing dan ayam. Biasanya hewan-hewan ini diburu harimau bila habitat harimau terganggu atau rusak sehingga memaksa harimau keluar dari habitatnya ke pemukiman atau persediaan mangsa di alam bebas sudah habis atau sangat berkurang jumlahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan makannya, harimau berburu 3 – 6 hari sekali, tergantung besar kecil mangsa yang didapatkannya. Biasanya seekor harimau membutuhkan sekitar 6 – 7 kg daging per hari, bahkan kadang-kadang sampai 40 kg daging sekali makan. Besarnya jumlah kebutuhan ini tergantung dari apakah harimau tersebut mencari makan untuk dirinya sendiri atau harimau betina yang harus memberi makan anak-anaknya (Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973).

Masa hidup seekor harimau adalah sekitar 10 – 15 tahun. Harimau yang tinggal di penangkaran umumnya lebih lama lagi, dapat mencapai 16 – 25 tahun (Macdonald, 1986).

Reproduksi

Harimau merupakan satwa dengan tingkat perkembangbiakan yang cukup tinggi. Kematangan secara seksual harimau betina adalah pada usia 3 – 4 tahun, sedangkan harimau jantan pada usia 4 – 5 tahun. Lama kehamilan harimau betina berkisar 102-110 hari Jumlah anak harimau pada sekali kelahiran jumlahnya berkisar antara 1 – 6 ekor, dan bahkan kadang-kadang lahir 7 ekor, tetapi dari jumlah tersebut yang mampu bertahan dan hidup sampai dewasa hanya dua atau tiga ekor saja. Harimau betina selama hidupnya dapat melahirkan anak dengan jumlah total sampai 30 ekor, dan setiap tahun dapat melahirkan anak. Jarak antar kelahiran kurang lebih 22 bulan, atau 2–3 tahun, tetapi dapat lebih cepat bila anaknya mati.

Harimau bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak. Home range untuk seekor harimau betina adalah sekitar 20 km2 sedangkan untuk harimau jantan sekitar 60 – 100 km2. Tetapi angka tersebut bukan merupakan ketentuan yang pasti, karena dalam menentukan teritorinya juga dipengaruhi oleh keadaan geografi tanah dan banyaknya mangsa di daerah tersebut. Biasanya daerah teritori harimau jantan 3 – 4 kali lebih luas dibandingkan harimau betina. Di Way Kambas dalam 100 km2 di dihuni oleh 3 – 5 ekor harimau.

Harimau Sumatera merupakan satwa endemik yang penyebarannya hanya terdapat di Pulau Sumatera saja. Sebelumnya, populasi Harimau Sumatera sangat banyak tersebar, mulai dari Aceh, di daerah dataran rendah Indragiri, Lumbu Dalam, Sungai Litur, Batang Serangan, Jambi dan Sungai Siak, Silindung, bahkan juga di daratan Bengkalis dan Kepulauan Riau. Pada saat ini, jumlahnya jauh berkurang dengan penyebaran yang terbatas.

Menurut catatan yang ada pada tahun 1800 – 1900 jumlah Harimau Sumatera masih sangat banyak, mencapai puluhan ribu ekor. Pada tahun 1978, dari suatu survei diperkirakan jumlah Harimau Sumatera adalah sekitar 1000 ekor dan saat ini berkisar 500-600 ekor. Diperkirakan pengurangan jumlah Harimau Sumatera sebanyak paling tidak 30 ekor per tahun, dengan penyebab utama adalah : Konversi Hutan, Degradasi Habitat, Fragmentasi Habitat, Konflik Harimau dengan Manusia, Perburuan Harimau dan Mangsa.

Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif

Populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis) di habitat alaminya secara menyeluruh belum diketahui secara tepat, namun dapat dipastikan bahwa populasinya saat ini sudah dalam kondisi sangat kritis.

Tahun 1994 diperkirakan populasi harimau sumatera yang hidup liar hanya 500-600 ekor saja dan itupun hidup tersebar dalam populasi-populasi kecil di Dalam Kawasan Konservasi dan di Luar Kawasan Konservasi. Sementara itu Direktorat Jederal PHKA memeperkirakan setiap tahunnya 30 ekor harimau sumatera mati akibat perburuan.

Kondisi seperti ini apabila tidak ditangani secara serius dan intensif dapat dipastikan bahwa populasi harimau sumatera di alam akan menurun secara cepat dan dalam waktu yang tidak lama akan punah seperti yang telah terjadi pada harimau Bali, Kaspia dan harimau Jawa yang sudah dianggap punah.

Menurunya populasi harimau Sumatera di alam disebabkan oleh banyak factor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan. Factor-faktor penyebab tersebut diantaranya, adalah:

  1. Informasi dan pengetahuan di bidang bio-ekologi harimau sumatera masih terbatas.
  2. Menurunnya kwalitas dan kwantitas habitat harimau sumatera akibat konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lain-lain
  3. Fragmentasi Habitat akibat Perencanaan Tata Guna Lahan dan penggunaan lahan dan hutan yang kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau sumatera.
  4. Kematian harimau sumatera secara langsung sebagai akibat dari perburuan untuk kepentingan ekonomi, estetika, pengobatan tradisional, magis, olahraga dan hobby serta mempertahankan diri karena terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat.
  5. Penangkapan dan pemindahan harimau sumatera dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu karena adanya konflik atau kebutuhan lain.
  6. Menurunya populasi satwa mangsa harimau karena berpindah tempat maupun diburu oleh masyarakat.
  7. Rendahnya unsur-unsur management pengelola konservasi harimau sumatera.
  8. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam konservasi alam dan rendahnya penegakan hukum dibidang “Wildlife Crime” telah pula mempercepat penurunan populasi harimau sumatera di alam.

Untuk mencegah terjadinya kepunahan harimau sumatera dan memulihkan kembali populasi-populasi harimau yang berada pada tingkat tidak sehat ke tingkat populasi sehat diperlukan tindakan yang secara simultan dapat mengatasi faktor-faktor penyebab kepunahan harimau sumatera tersebut di atas.

Bioekologi Harimau Sumatera

Harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae (Pocock, 1929) secara taksonomi dalam biologi termasuk dalam :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Infra kelas : Eutheria
Ordo : Carnivora
Sub ordo : Fissipedia
Super famili : Felloidea
Famili : Felidae
Sub famili : Pantherina
Genus : Panthera
Spesies : Panthera tigris
Subspesies : Panthera tigris sumatrae

Selain Panthera tigris sumatrae masih terdapat tujuh subspesies lain yang juga termasuk dalam spesies Panthera tigris yaitu :

  • Harimau India atau Harimau Bengala (Panthera tigris tigris),
  • Harimau Siberia (Panthera tigris altaica),
  • Harimau Cina atau Amoy (Panthera tigris amoyensis),
  • Harimau Indo-Cina (Panthera tigris corbetti),
  • Harimau Kaspia (Panthera tigris virgata) yang punah sekitar tahun 1950,
  • Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), terdapat di Jawa, Indonesia, dinyatakan punah sekitar tahun 1980, dan
  • Harimau Bali (Panthera tigris balica), terdapat di Bali dan dinyatakan punah tahun 1937.

Populasi Harimau Sumatera

Menurut catatan yang ada pada tahun 1800 – 1900 jumlah Harimau Sumatera masih sangat banyak, mencapai ribuan ekor. Pada tahun 1978, dari suatu survei diperkirakan jumlah Harimau Sumatera adalah sekitar 1000 ekor. Setelah itu Sumatera mengalami perkembangan yang sangat pesat antara lain di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan serta pembangunan pemukiman dan industri. Akibatnya habitat Harimau Sumatera semakin menurun yang otomatis berakibat pula pada populasinya. Diperkirakan saat ini populasi harimau di Sumatera sekitar 500 ekor, yang tersebar di kawasan konservasi utama 400 ekor dan di luar kawasan konservasi 100 ekor hidup.

Dari data yang ada terlihat adanya pengurangan jumlah Harimau Sumatera sebanyak kurang lebih 33 ekor per tahun. Dengan kondisi seperti ini maka apabila tidak dilakukan pengelolaan yang intensif harimau sumatera diperkirakan akan mengalami kepunahan dalam waktu sepuluh tahun mendatang.

Hasil survey dan monitoring populasi menggunakan kamera inframerah yang dilakukan dibebarapa habitat penting harimau diperoleh data populasi sebagai berikut :

  • Di Taman Nasional Way Kambas: 43-46 ekor, telah terpotret 44 individu,
  • Di Taman Nasional Bukit Tigapuluh: 23-26 ekor, telah terpotret 7 individu

Di Kawasan Hutan Senepis-Buluhala: 11-14 ekor, telah terpotret, 9 individu


Untuk File PDF nya silakan download:

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/all-about-panthera-tigris-sumatrae3.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/profil-reproduksi-harimau1.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/pelepas-liaran-harimau1.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/crouching-tigers-hidden-prey-sumatran-tiger-and-prey-populations-in-a-tropical-forest-landscape.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/conservation-status-of-tigers-in-a-primary-rain-forest-of-peninsular-malaysia.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/tigers-and-their-prey-predicting-carnivore-densities-from-prey-abundance.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/characterizing-human-tiger-conflict-in-sumatra-indonesia.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/effects-of-trapping-effort-and-trap-shyness-on-estimates-of-tiger-abundance-from-camera-trap-studies.pdf

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/traffic_sumatrantigers_2004.pdf

Siamang

Siamang

Sympalangus syndactylus

Famili: Hylobatidae

Ciri-ciri

Siamang merupakan spesies yang terbesar di dalam famili Hylobatidae. Berat badan yang jantan adalah di antara 10 hingga 13 kilogram. Sementara berat yang betina adalah di antara 9 hingga 11 kilogram. Keseluruhan badan spesies ini berwarna hitam serta mempunyai kantong suara di bagian lehernya.

Sebaran

Siamang tersebar di Semenanjung Malaysia dan Sumatera. Di Semenanjung Malaysia sebarannya terdapat di kawasan tengah dan utara.

Habitat

Ia biasanya mendiami kawasan hutan tanah pamah dan juga hutan bukit tetapi biasanya bisa dijumpai di hutan primer.

Perilaku

Siamang biasanya hidup di dalam satu keluarga yang terdiri dari 2 Hingga 3 ekor anak dan diketuai oleh yang jantan. Siamang jantan dewasa lebih gemar bergerak bersendirian. Bunyi yang dikeluarkan oleh spesies ini dapat didengar sehingga melebihi satu kilometer. Bunyi yang dikeluarkan tempat menunjukkan kawasan ini dikuasai oleh satu kumpulan Siamang, dan Siamang dari kelompok yang lain akan dikawal jika memasuki kawasan tersebut. Siamang adalah spesies yang bersifat “territorial”. Makanan utama spesies ini adalah buah-buahan, daun-daun, pucuk-pucuk, mamalia kecil, burung dan telur burung. Selain itu siamang hidup secara monogamus (setia pada pasangannya), sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di tajuk pohon (arboreal) dan bergerak dengan bergayutan dari cabang ke cabang lainnya (brankiasi).

Status

Akta 76/72 : Diperlindungi sepenuhnya

CITES : Appendik I



 

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/10/density-and-biomass-estimates-of-gibbons-in-bornean-rainforest-a-comparison-of-techniques.pdf

Analisis Vegetasi Hutam Alam

Tulisan ini saya kutip dari :

Siti Latifah
Jurusan Kehutanan
Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan).

Dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang beersangkut paut dengan sumber daya alam dikenal dua jenis/tipe pengukuran untuk mendapatkan informasi/data yang diinginkan. Kedua jenis
pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destruktive measure) dan pengukuran yang tidak merusak (non destructive measure). Untuk keperluan penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan contoh (sampling unit), apabila bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas.Dengan sampling seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi penuh (metode sensus) pada anggota suatu populasi.

Supaya data penelitian yang akan diperoleh bersifat valid, maka sebelum melakukan penelitian dengan metode sampling kita harus menentukan terlebih dahulu tentang metode sampling yang akan digunakann, jumlah, ukuran dan peletakkan satuan satuan
unit contoh. Pemilih metode samplingyang akan digunakan bergantung pada keadaan morfologi jenis tumbuhan dan penyebarannya, tujuan penelitian dan biaya serta tenaga yang tersedia.

Berdasarkan data pengukuran pada unit contoh tersebut dapat diketahui jenis dominan dan kodominan, pola asosiasi, nilai keragaman jenis, dan atribut komunitas tumbuhan lainnya yang berguna bagi pengelolaan hutan.

Untuk mempermudah kegiatan analisis vegetasi hutan alam maka perlu disiapkan bahan dan alat sebagai berikut :
1. Menetapkan ekosistem hutan alam pada berbagai formasi
2. Menyediakan peta lokasi, peta kerja dan atau peta penutupan lahan (peta penafsiran vegetasi)
3. Tali plastik (60 m per regu)
4. Alat ukur tinggi pohon seperti Haga meter atau chrysten meter
5. Alat ukur diameter pohon seperti : Diameter tape (phi band) atau pita meter 100 cm
6. Meteran 10 m atau 20 m
7. Patok dengan tinggi 1 (satu) meter, dimana ujung bawah runcing dan ujung atas sepanjang 3 cm dicat merah putih
8. Tally sheet dan alat tulis menulis
9. Kompas
10. Pengenal jenis pohon
Setelah bahan dan alat yang diperlukan tersedia maka kegiatan di lapangan dilakukan sebagai berikut :
1. Kegiatan analisis vegetasi dilakukan secara berkelompok. Kelompok ini terdiri dari pembersih areal, penunjuk arah, pengukur pohon, pengenal pohon, dan pembawa perbekalan.
2. Menentukan lokasi jalur yang akan disurvei (unit contoh) di atas peta, panjang masing-masing jalur ditentukan berdasarkan lebar hutan (dalam survei ini panjang jalur 500 meter per regu). Jalur dibuat dengan arah tegak lirus kontur (memotong garis kontur).
3. Membuat contoh unit jalur
4. Mengidentifikasi jeniss dan jumlah serta mengukur diameter (DBH) dan tinggi (tinggi total dan bebas cabang) untuk tingkat tiang dan pohon. Sedangkan untuk tingkat semai dan panjang hanya mengidentifikasi jenis dan jumlahnya saja.
Data hasil pengukuran dicatat dalam tally sheet. Dalam kegiatan survei ini digunakan kriteria pertumbuhan sbb :
a. Semai adalah anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi < 1,5 meter
b. Pancang adalah anakan pohon yang tingginya > 1,5 cm dan diameter < 7 cm
c. Tiang adalah pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai diameter < 20 cm
d. Pohon adalah pohon dewasa berdiameter > 20 cm
Khusus untuk hutan manggrove petak contoh pohon dan tiangnyaa 10 X 10 m.

lENGKAPNYA SILAKAN LIHAT DI:

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf

Agroforestri: beda sistem beda pendekatan

AGROFORESTRY

Perubahan lingkungan daerah tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutan alam yang menimbulkan erosi,kepunahan flora dan fauna, dan perluasan lahan kritis. Semakin beratnya permasalahan tersebut telah mendorong munculnya sebuah aliran ilmu baru yang berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang diciptakan petani daerah tropika, yaitu ilmu agroforestri.

Agroforestri menggabungkan ilmu kehutanan dan agronomi, serta memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan. Agroforestri diharapkan berguna bagi daerah tropika, sebagai usaha mencegah perluasan tanah tandus dan kerusakan kesuburan tanah, dan mendorong pelestarian sumberdaya hutan. Agroforestri juga diharapkan berguna bagi peningkatan mutu pertanian serta intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Agroforestri lebih tepat diartikan sebagai tema penghimpun, yang dibahas dari berbagai segi sesuai dengan minat masing-masing bidang ilmu.

Agroforestri adalah nama bagi sistem sistem dan teknologi penggunaan lahan di mana pepohonan berumur panjang (termasuk semak, palem, bambu,kayu, dll.) dan tanaman pangan dan atau pakan ternak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu. Dalam sistem-sistem agroforestri terjadi interaksi ekologi dan ekonomi antar unsur-unsurnya. Sumbangan ilmu botani dan ekologi hutan bagi pemahaman berbagai sistem agroforestri di daerah tropika basah perlu mendapat sorotan. Dari sudut pandang asal maupun evolusi pendekatan botani, Indonesia memiliki kedudukan yang khusus. Hal ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi harus dikaitkan dengan keanekaan dan ketuaan praktik agroforestri yang menjadi ciri khas seluruh kepulauan Indonesia.

Pemaduan-pemaduan tanaman pohon dan tanaman pangan yang berbentuk sederhana atau kadang-kadang intensif, ternyata banyak sekali jumlahnya. Keberhasilan pemaduan itu memang menarik dari sudut pandang agronomi dan ekonomi, tetapi rendahnya keanekaragaman hayati menjadikannya mirip dengan pertanaman monokultur, sehingga tidak begitu menarik minat para ahli botani dan ekologi hutan karena kurang dapat menjadi kajian keilmuannya. Yang dimaksud dengan sistem agroforestri sederhana adalah perpaduan-perpaduan konvensional yang terdiri atas sejumlah kecil unsur, menggambarkan apa yang kini dikenal sebagai skema agroforestri klasik. Dari sudut penelitian dan persepsi berbagai lembaga yang menangani agroforestri, tampaknya sistem agroforestri sederhana ini menjadi perhatian utama. Biasanya perhatian terhadap perpaduan tanaman itu menyempit menjadi satu unsur pohon yang memiliki peran ekonomi penting (seperti kelapa, karet, cengkeh, jati, dll.) atau yang memiliki peran ekologi (seperti dadap dan petai cina), dan sebuah unsur tanaman musiman (misalnya padi, jagung, sayur-mayur, rerumputan), atau jenis tanaman lain seperti pisang, kopi, coklat dan sebagainya yang juga memiliki nilai ekonomi. Bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dibahas adalah tumpangsari, yang merupakan sistem taungya versi Indonesia yang diwajibkan di areal hutan jati di Jawa. Sistem ini dikembangkan dalam program perhutanan sosial Perum Perhutani. Sistem-sistem agroforestri sederhana juga menjadi ciri umum pada pertanian komersil: kopi sejak dahulu diselingi dengan tanaman dadap, yang menyediakan naungan bagi kopi dan kayu bakar bagi petani.

Sistem agroforestri kompleks atau singkatnya agroforest, adalah sistem-sistem yang terdiri dari sejumlah besar unsur pepohonan, perdu, tanaman musiman dan atau rumput. Penampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam primer maupun sekunder. Sistem agroforestri kompleks bukanlah hutan-hutan yang ditata lambat laun melalui transformasi ekosistem secara alami, melainkan merupakan kebun-kebun yang ditanam melalui proses perladangan. Kebun-kebun agroforest dibangun pada lahan-lahan yang sebelumnya dibabati kemudian ditanami dan diperkaya. Dalam kondisi terbatasnya lahan karena ledakan jumlah penduduk dan perluasan konsesi penebangan hutan, transmigrasi, dan hutan tanaman industri: lahan yang masih tersisa kebanyakan sudah berupa agroforest. Tahapan tanaman semusim—biasanya padi ladang—berlangsung selama satu atau dua kali panen saja. Sistem sistem pada tahapan ini merupakan perpaduan sementara yang berisi tanaman semusim dan pepohonan. Cara pembentukan sistem-sistem agroforest kompleks mirip dengan pembentukan hutan jati pada lahan Perum Perhutani di Jawa dalam sistem tumpangsari. Bedanya, dalam sistem tumpangsari, pepohonan adalah milik Perum Perhutani dan pada tahap dewasa tidak ada lagi pemaduan dengan tanaman bermanfaat lainnya. Jenis pohon yang ditanam khusus untuk menghasilkan kayu. Sebaliknya, pada sistem agroforestri kompleks, pepohonannya dimiliki petani dan pada tahap dewasa petani tetap memadukan bermacam-macam tanaman lain yang bermanfaat. Pemaduan terus berlangsung pada keseluruhan masa keberadaan agroforest. Dalam konteks ini agroforest berada di tengah-tengah, antara sistem pertanian dan hutan.

diterangkan lebih lengkap di: http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/agroforestri-indonesiabeda-sistem-beda-pendekatan.pdf

Amorphophallus decussilvae Bunga bangkai jangkung

Nama umum

Indonesia: Bunga bangkai jangkung
Amorphophallus decussilvae
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arales
Famili: Araceae (suku talas-talasan)
Genus: Amorphophallus
Spesies: Amorphophallus decussilvae
Kerabat Dekat
Suweg, Bunga Bangkai Raksasa, Porang

www.plantamor.com

 

decussilvae2006

Domain: Eukaryota Whittaker & Margulis,1978 – eukaryotes
Kingdom: Plantae Haeckel, 1866 – Plants
Subkingdom: Viridaeplantae Cavalier-Smith, 1981 – Green Plants
Phylum: Tracheophyta Sinnott, 1935 ex Cavalier-Smith, 1998 – Vascular Plants
Subphylum: Spermatophytina (auct.) Cavalier-Smith, 1998 – Seed Plants
Infraphylum: Angiospermae auct.
Class: Liliopsida Scopoli, 1760 – Monocotyledons
Subclass: Aridae (Bartl., 1830) Takhtajan, 1997
Superorder: Aranae (Dumortier, 1829) Thorne ex Reveal, 1992
Order: Arales Dumortier, 1829
Family: Araceae (a-RAY-see-ay) Adans., 1763, nom. cons. – Arum Family
Genus: Amorphophallus (a-mor-fo-FAL-us) – Amorphophallus
Specific epithet: decussilvae Backer & Alderwer.
Botanical name: Amorphophallus decussilvae Backer & Alderwer.

http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/04/amorphophallus-decussilvae.html

kurang bos keterangannya… sumbernya dikit..

Tumbuhan Langka

Jenis-jenis Tumbuhan yang Dilindungi

I. PALMAE
Amorphophallus decussilvae Bunga bangkai jangkung
Amorphophallus titanum Bunga bangkai raksasa
Borrassodendron borneensis Bindang, Budang
Caryota no Palem raja/Indonesia
Ceratolobus glaucescens Palem Jawa
Cystostachys lakka Pinang merah Kalimantan
Cystostachys ronda Pinang merah Bangka
Eugeissona utilis Bertan
Johanneste ijsmaria altifrons Daun payung
Livistona spp. Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)
Nenga gajah Palem Sumatera
Phoenix paludosa Korma rawa
Pigafatta filaris Manga
Pinanga javana Pinang Jawa

II. RAFFLESSIACEA
Rafflesia spp. Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)

III. ORCHIDACEAE
Ascocentrum miniatum Anggrek kebutan
Coelogyne pandurata Anggrek hitan
Corybas fornicatus Anggrek koribas
Cymbidium hartinahianum Anggrek hartinah
Dendrobium catinecloesum Anggrek karawai
Dendrobium d’albertisii Anggrek albert
Dendrobium lasianthera Anggrek stuberi
Dendrobium macrophyllum Anggrek jamrud
Dendrobium ostrinoglossum Anggrek karawai
Dendrobium phalaenopsis Anggrek larat
Grammatophyllum papuanum Anggrek raksasa Irian
Grammatophyllum speciosum Anggrek tebu
Macodes petola Anggrek ki aksara
Paphiopedilum chamberlainianum Anggrek kasut kumis
Paphiopedilum glaucophyllum Anggrek kasut berbulu
Paphiopedilum praestans Anggrek kasut pita
Paraphalaenopsis denevei Anggrek bulan bintang
Paraphalaenopsis laycockii Anggrek bulan Kaliman Tengah
Paraphalaenopsis serpentilingua Anggrek bulan Kaliman Barat
Phalaenopsis amboinensis Anggrek bulan Ambon
Phalaenopsis gigantea Anggrek bulan raksasa
Phalaenopsis sumatrana Anggrek bulan Sumatera
Phalaenopsis violacose Anggrek kelip
Renanthera matutina Anggrek jingga
Spathoglottis zurea Anggrek sendok
Vanda celebica Vanda mungil Minahasa
Vanda hookeriana Vanda pensil
Vanda pumila Vanda mini
Vanda sumatrana Vanda Sumatera

IV. NEPHENTACEAE
Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)

V. DIPTEROCARPACEAE
Shorea stenopten Tengkawang
Shorea stenoptera Tengkawang
Shorea gysberstiana Tengkawang
Shorea pinanga Tengkawang
Shorea compressa Tengkawang
Shorea semiris Tengkawang
Shorea martiana Tengkawang
Shorea mexistopteryx Tengkawang
Shorea beccariana Tengkawang
Shorea micrantha Tengkawang
Shorea palembanica Tengkawang
Shorea lepidota Tengkawang
Shorea singkawang Tengkawang

sama kayak satwa sebelumnya bahannya lagi dikumpulin … (tolong ingetin)

Categories: Flora