Skip navigation

Dicerorhinus sumatrensis

Badak adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1814, Fischer telah memberi nama marga (genus) Dicerorhinus kepada badak sumatera..

Secara taksonomi badak Sumatera diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Super kelas : Gnatostomata
Kelas : Mammalia
Super ordo : Mesaxonia
Ordo : Perissodactyla
Super famili : Rhinocerotides
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Dicerorhinus
Spesies : Dicerorhinus sumatrensis Fischer, 1814

Dicerorhinus berasal dari bahasa Yunani yaitu Di berarti “dua” dan Cero berarti “cula” (berarti bercula dua), rhinus berarti “hidung”, sumatrensis: merujuk pada Pulau Sumatera. ((ditambah akhiran ensis menurut bahasa Latin, berarti lokasi). Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya Badak Sumatera disebut Sumatran Rhino.

MORFOLOGI BADAK SUMATERA.
Berdasarkan penampilan bentuk tubuh dan rupa (morfologi)nya, badak Sumatera adalah sebagai berikut :

  • Tinggi badak sumatera diukur dari telapak kaki sampai bahu antara 120-135 cm, panjang dari mulut sampai pangkal ekor antara 240-270 cm.
  • Berat tubuhnya dapat mencapai 909 kg.
  • Tubuhnya tidak berambut kecuali dibagian telinga dan ekornya.
  • Tubuhnya gemuk dan agak bulat, kulitnya licin dan berambut jarang, menarik perhatian dengan adanya dua lipatan kulit yang besar.
  • Lipatan pertama melingkari pada paha diantara kaki depan, dan lipatan kedua di atas abdomen dan bagian lateral.
  • Di atas tubuhnya tidak ada lipatan, jadi lipatan kulit tampak nyata dekat kaki belakang dan lipatan bagian depan dekat kedua culanya.
  • Cula bagian depan (anterior) di atas ujung dari moncongnya jauh lebih besar dari cula bagian belakang (pasterior).

Badak sumatera merupakan badak terkecil dan jenis yang paling primitif dari kelima jenis badak yang masih hidup di dunia.
Ciri-ciri yang khas dari Badak Sumatera adalah antara lain mempunyai bibir atas lengkung-mengait kebawah (hooked upped), bercula 2 (dua), warna kulit coklat kemerahan serta lipatan kulit hanya terdapat pada pangkal bahu, kaki depan mupun kaki belakang, Kekhasan yang menonjol dari rhino sumatera daripada jenis rhino lainnya adalah kulitnya yang berambut. Waktu bayi seluruh kulit badannya ditutupi rambut yang lebat (gondrong) dan semakin jarang seiring dengan bertambahnya usia. Namun kekhasan lain dari bulu rhino ini adalah rambutnya akan menjadi tumbuh lebat bila hidup dan berada di daerah yang dingin, sedangkan di daerah yang panas menjadi pendek. Sebagaimana rhino jawa, rhino sumatera lebih banyak hidup dan tinggal dalam hutan.

HABITAT BADAK SUMATERA
Habitat (tempat hidup) badak sumatera adalah pada daerah tergenang diatas permukaan laut sampai daerah pegunungan yang tinggi (dapat juga mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut). Tempat hidup yang penting bagi dirinya adalah cukup makanan, air, tempat berteduh dan lebih menyukai hutan lebat. Pada cuaca yang cerah sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun. Senang makan di daerah hutan sekunder. Habitat badak sumatera di Gunung Leuser, terbatas pada hutan-hutan primer pada ketinggian antara 1000-2000 meter diatas permukaan laut.

Badak sumatera merupakan satwa liar yang senang berjalan. Dalam satu harinya, badak ini dapat menempuh perjalanan sejauh 12 (dua belas) kilometer dalam waktu 20 (dua puluh) jam. Separuh jarak tersebut dilakukan pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan aktifitas di siang hari lebih ditujukan untuk mencari atau menuju ketempat berkubang atau berendam di sungai-sungai kecil atau rawa-rawa dangkal.
Badak sumatera dewasa dengan berat 800 (delapan ratus) kilogram, mengkonsumsi rata-rata 50 (lima puluh) kilogram dedaunan dan pepucukan tanaman yang berasal dari pohon-pohon muda, rerantingan dan cecabangan pohon yang rendah atau dari semak belukar yang lebat. Jenis badak ini kadang-kadang memakan batang dari tanaman jahe, rotan dan palem. Untuk memperoleh makanan sebanyak tersebut diatas, seekor rhino sumatera memerlukan areal hutan dan semak belukar seluas 5 (lima) sampai 6 (enam) hektar. Dan untuk seekor rhinosumatera dibutuhkan minimal 700 (tujuh ratus) hektar kawasan hutan dan semak belukar sebagai wilayah pengembaraannya.

Jenis makanan yang di sukai badak sumatera kebanyakan di temukan di daerah perbukitan, berupa tumbuhan semak dan pohon-pohonan. Merumput tidak dilakukan kecuali untuk jenis-jenis bambu seperti Melocana bambusoides.
Terdapat 102 jenis tanaman dalam 44 familia tanaman yang disukai badak sumatera. Sebanyak 82 jenis tanaman dimakan daunnya, 17 jenis dimakan buahnya, 7 jenis dimakan kulit dan batang mudanya dan 2 jenis dimakan bunganya. Tanaman yang mengandung getah lebih disukai seperti daun manan (Urophylum spp) yang tumbuh di tepi bukit.
Daun nangka (Artocarpus integra) juga kegemarannya., lainnya seperti Bunga dari tenglan (Saraca spp) dan lateks dari jenis tanaman rengas (Melanorhea spp) merupakan pakan badak ini.

PENYEBARAN BADAK SUMATERA.
Pada kehidupan awalnya, rhino sumatera memiliki daerah penyebaran yang cukup luas, yaitu meliputi Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Burma, Kambodya sampai dengan Vietnam. Namun akibat perburuan yang berlangsung terus menerus sejak masa lalu hingga sekarang, maka penyebaran di habitat alamnya menjadi terbatas di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia saja, Sedangkan di Kalimantan dalam beberapa tahun belakangantidak pernah dijumpai lagi. Jumlah populasi rhino sumatera di kawasan hutan habitat alaminya diperkirakan kurang dari 200 (dua ratus) ekor, dan sebagian besar berada di Sumatera. Di Indonesia penyebaran rhino pada habitat alamnya terdapat dalam kawasan hutan TN Gunung Leuser (Provinsi Nangru Aceh Darusallam), TN Kerinci Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan), TN Bukit Barisan Selatan (Provinsi Bengkulu) dan TN Way Kambas (Provinsi Lampung).

POPULASI BADAK SUMATERA.
Populasi adalah suatu kelompok suatu jenis satwa yang hidup pada wilayah tempat hidup tertentu, misalnya Populasi Harimau Sumatera di kawasan hutan TN Bukit Barisan Selatan-Sumatera.
Berdasarkan Analisa Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA) Badak Sumatera tahun 1993, populasi badak Sumatera di Sumatra berkisar antara 215 -319 ekor atau turun sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebelumnya populasi badak Sumatera di pulau Sumatera berkisar antar 400-700 ekor. Sebagian besar terdapat di wilayah Gunung Kerinci Seblat (250-500 ekor), Gunung Leuser (130-250 ekor) dan Bukit Barisan Selatan (25-60 ekor). Sebagian yang lainnya tidak diketahui jumlahnya terdapat di wilayah Gunung Patah, Gunung Abong-Abong, Lesten-Lokop, Torgamba dan Berbak.
Di Kalimantan satu kelompok populasi tersebar di wilayah Serawak, Sabah dan wilayah tengah Kalimantan. Di Malaysia jumlah populasi badak Sumatera diperkirakan berkisar antara 67-109 ekor.
Menurut IUCN/SSC – African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi badak Sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatra dan Borneo yaitu Malaya/Sumatra Sumatran Rhino ~ 250 ekor dan Borneo Sumatran Rhino ~ 50 ekor.
Taksiran jumlah populasi badak Sumatera menurut Program Konservasi Badak Indonesia tahun 2001 di wilayah kerja RPU adalah sebagai berikut: TNKS 5 – 7 ekor dengan kerapatan (density) 2500 – 3500 ha per ekor badak, TNBBS 60 – 85 dengan kerapatan 850 – 1200 ha per ekor badak, TNWK 30 – 40 ekor dengan kerapatan 700 – 1000 ha per ekor badak.
Observasi Lapangan tahun 1997 s/d 2004, RPU – PKBI memperkirakan jumlah populasi badak Sumatera di TNBBS berkisar antara 60 – 85 ekor. Sementara di TNWK berkisar antara 15 – 25 ekor.
Data RPU Yayasan Leuser tahun 2004 (dalam Outline Strategi Konservasi Badak Indonesia 2005) menunjukkan jumlah populasi badak Sumatera di lokasi survey RPU berkisar antara 60 – 80 ekor.
Berbeda dengan badak jawa, badak ini ada yang hidup dalam habitat buatan (eksitu) atau disebut juga penangkaran. Sepuluh lokasi penangkaran badak sumatera yang terdapat didalam dan luar negeri, yaitu 3 (tiga) lokasi di Indonesia, 1 (satu) lokasi di Inggris, 3 (tiga) lokasi di Malaysia dan 3 (tiga) lokasi di Amerika Serikat. Berdasarkan catatan yang bersumber dari Taman Safari Indonesia tahun 1994, dari 39 (tiga puluh sembilan) rhino yang hidup dalam 10 (sepuluh) lokasi penangkaran sekarang tinggal 23 (dua puluh tiga) ekor saja dengan rincian dapat dilihat dalam tabel 1 dibawah. Sedangkan menurut catatan terakhir data yang dikeluarkan oleh Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) sekarang hanya ada 14 (empat belas) ekor saja. Kematian yang tinggi di luar habitat alaminya ini disebabkan sifat rhino sumatera yang sangat peka terhadap perubahan situasi dan kondisi tempat hidupnya (dalam hal ini stress berat dan sulit mencari atau mengganti jenis pakannya).
Namun ada harapan dan kabar yang cukup menggembirakan diperoleh dari sepasang Badak Sumatera yang hidup di penangkaran Kebun Binatang Cincinnati Amerika Serikat, yaitu dari pasangan jantan bernama Ipuh dan betina bernama Andalas telah menghasilkan seekor bayi badak yang diberi nama ” Emi ”.

PERILAKU BADAK SUMATERA
Sebagaimana sepupunya badak jawa, badak sumatera senang berkubang atau berendam dalam Lumpur. Kubangan badak ini umumnya ditemukan pada daerah yang datar dengan panjang antara 2 (dua) sampai dengan 3 (tiga) meter. Mengingat kebiasaan berkubang ini sangat penting bagi badak sumatera, apabila tidak menjumpai tempat kubangan maka dia akan pergi mencari tanah-tanah yang becek/berair dibawah pohon-pohon yang besar. Dengan mempergunakan cula dan kakinya, dia mecongkeli tanah tersebut hingga menjadi bubur tanah yang lembut, kemudian berguling-guling diatasnya. Dalam beberapa tahun kemudian, berangsur-angsur tempat tersebut akan berubah menjadi tempat kubangan yang baru yang panjangnya dapat mencapai lebih dari 5 (lima) meter didekat akar-akar pohon besar didalam hutan. Kedalaman kubangan tersebut dapat mencapai 1 (satu) meter, lebar antara 2 (dua) sampai 3 (tiga) meter dan ketebalan lumpurnya antara 50 (lima puluh) sampai 70 (tujuh puluh) sentimeter.

MASA PERKAWINAN BADAK SUMATERA
Badak sumatera juga bersifat pendiam dan soliter atau menyendiri, bergerak diam-diam menjelajahi tempat-tempat yang menjadi wilayah pengembaraannya masing-masing. Belum pernah ditemukan sang badak berkelahi untuk memperebutkan wilayah pengembaraannya. Demikian pula dengan satwa lain, jarang sekali dijumpai perkelahian badak ini dengan jenis satwa lainnya. Bila mendeteksi melalui indera penciumannya yang tajam ada bau jenis satwa lain yang dapat menjadi ancaman bagi dirinya seperti harimau sumatera, gajah sumatera maupun manusia, maka dia akan segera lari menghindar kedalam hutan atau semak belukar yang lebat dengan arah yang berlawanan dari tempat datangnya ancaman.
Dewasa kelamin bagi badak sumatera dimulai pada saat usianya mencapai 7 (tujuh) atau 8 (delapan) tahun dengan batas usia dapat mencapai 32 tahun. Sedangkan perilaku perkawinan badak ini tidak berbeda dengan badak jawa.Masa kehamilan badak sumatera berkisar antara 16 (enam belas) sampai 18 (delapan belas) bulan. Anak rhino yang lahir akan hidup dan tinggal bersama induknya hingga mencapai usia7 (tujuh) tahun. Seperti badak jawa, induk rhino sumatera akan dapat bereproduksi kembali apabila sang anak telah mencapai usia lebih 4 (empat) tahun,
Badak sumatera juga dikatagorikan sebagai satwa langka dilindungi yang menuju kepunahan (sama dengan rhino jawa dan harimau sumatera). Hal ini dapat kita maklumi, karena jumlah populasi di habitat alamnya belum diketahui secara pasti, yaitu baru diperkirakan kurang dari 200 (dua ratus) ekor saja. Demikian halnya, jumlah populasi pada habitat alam dari setiap kawasan hutan 4 (empat) Taman Nasional di Sumatera belum diperoleh data yang akurat (pasti/tepat). Upaya penyelamatan dengan pengembangbiakan melalui habitat buatan atau penangkaran yang telah dilakukan selama 23 (dua puluh tiga) tahun sejak tahun 1985 sampai sekarang, masih menunjukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Dari 10 (sepuluh) penangkaran eksitu dan 1 (satu) penangkaran semi insitu (SRS-TN Way Kambas) baru memperoleh 1 (satu) kelahiran anak badak di Cincinnati Zoo-USA, Terlebih data yang ada menunjukkan kematian di penangkaran jauh lebih besar dari kelahiran. Penjelasan tentang kegiatan-kegiatan untuk penyelamatan rhino ini akan diuraikan dalam upaya penyelamatan badak Indonesia.

sorry kalo cuma copy paste… Tapi tujuanku cuma pengen biar banyak orang yang tau aja…

source :

BADAK SUMATERA (Dicerorhinus sumatrensis) Juga salah satu titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia Oleh : Sudarsono Djuri

http://info.indotoplist.com/?ZEc5d1BTWjBiM0JyWVhROU5TWnRaVzUxUFdSbGRHRnBiQ1pwYm1adlgybGtQVFkz

4 Comments

  1. Ada yang tau?..Si “rosa” masih ada g ya di SRS?

  2. soory w jg copypaste cuma buat ngerjain tugas kuliah w.berguna bwt w,hehe :)

  3. You could definitely see your enthusiasm within the article you write.
    The sector hopes for more passionate writers like you who are not afraid to say how they
    believe. At all times follow your heart.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: