Skip navigation

Category Archives: Metode Penelitian

Eksplorasi.

Eksplorasi adalah pelacakan atau penjelajahan atau dalam plasma nutfah tanaman dimaksudkan sebagai kegiatan mencari, mengumpulkan, dan meneliti jenis spesies tertentu untuk mengamankan dari kepunahan. Spesies yang ditemukan perlu diamati sifat dan asalnya. Eksplorasi dilengkapi dengan denah penjelajahan yang menggambarkan tempat tujuan eksplorasi dan data paspor (memuat nama daerah plasma nutfah, kondisi biogeografi, dan ekologi).

Eksplorasi dilakukan dengan metode jelajah secara acak terwakili dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari tiap-tiap kawasan jelajah, sehingga tiap kawasan memiliki contoh yang bisa dijadikan sebagai pembanding dengan daerah lainnya. kawasan sampel ini bisa dibagi berdasarkan kebutuhan dan tujuan dari penelitian itu sendiri, misal pengumpulan data berdasarkan ketinggian lokasi, berdasarkan tingkat kelembaban, berdasarkan tipe habitat dan lain-lain.

metode eksplorasi ini juga bisa digunakan untuk melakukan inventarisasi (baik inventarisasi tumbuhan maupun hewan). untuk inventarisasi, Pengamatan dilakukan pada setiap kali penjumpaan. Jadi setiap kali berjalan dijumpai anggrek, maka pada saat itu pula dilakukan pengamatan populasi dan pengulangan penjumpaan dihitung sebagai frekuensinya. Persentase kemelimpahan dihitung dari penjumlahan persentase jumlah individu dan persentase frekuensi keterdapatannya.

beberapa contoh variabel yang sering digunakan dalam penelitian ekologi yang menggunakan metode ini:
data primer:

  1. Jenis: menerangkan nama spesies
  2. Ciri/ morfologi: menerangkan ciri yang nampak pada spesies yang dijadikan objek (daun, bunga, batang, warna, bentuk jejak, bentuk paruh dll)
  3. Jumlah: bisa jumlah jenis maupun jumlah individu. (berapa ekor, berapa jenis, berapa batang dll)
  4. Kondisi habitat: menerangkan keadaan yang terjadi pada habitat tersebut (semak belukar, berair, rawa, tajuk rapat dll)
  5. Kelembaban. dll

data sekunder

  1. iklim
  2. wawancara langsung dan tak langsung
  3. literatur

sekian dulu dari saya, untuk contoh penelitian metode eksplorasi silakan download link di bawah ini (sebenernya catatan di atas adalah rangkuman dari beberapa link di bawah ini)

Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Anggrek di Kalimantan Tengah
M. Sabran, A. Krismawati, Y.R. Galingging, dan M.A. Firmansyah
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Selatan

Studi Keragaman Anggrek di Cagar Alam Gunung Simpang,
Jawa Barat
DWI MURTI PUSPITANINGTYAS
Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor, LIPI, Bogor 16003.

Rekaman Baru Anggrek dari Pulau Wawonii
DIAH SULISTIARINI , SITI SUNARTI, HARRY WIRIADINATA
Herbarium Bogoriense, Bidang Botani – Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor 16911

http://www.ziddu.com/download/8530172/ks_20.pdf.htm

A. Mammal Surveys

JohnD. Perrine & Chris C. Conroy

“Lassen Transect” berjarak sejauh 3,125 mil2 di california utara dari Sungai Sacramento hingga Perbatasan Nevada. Secara umum, masing-masing lokasi binatang menyusui telah disurvei diatas suatu lima periode hari. Pada hari yang pertama, perangkap yang dibentuk untuk mewakili semua tipe habitat utama di area tersebut. Perangkap kemudian dicek setiap empat hari. Pada pagi terakhir perangkap diambil dan dipindahkan ke lokasi sampling selanjutnya. Lokasi yang berjarak dekat sering di sample secara bersamaan. Dengan perbedaan utama habitat antar transect, keanekaragaman habitat pada lokasi masing-masing, dan cakupan di kebiasaan makanan taxa focal, kita tidak menggunakan suatu perangkap di desain standard (misalnya sebagai garis sejajar;ditetapkan pada interval jarak yang seragam dengan memanfaatkan suatu umpan).

Link untuk download yang lengkap:

Lassen Transect

ITT

Inventarisasi Tegakan Tinggal merupakan salah satu dari “rukun” sistem silvikultur di Indonesia, teknik ini digunakan paling banyak di kawasan HPH. Bila pelaksanaannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan pengolahan maka hasil yang didapatkan sesuai dan efek yang ditimbulkan akan sangat sedikit mengakibatkan kerusakan, tetapi pada prakteknya sangat banyak penyimpangan2 yang dilakukan oleh perusahaan2 HPH yang tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan kerusakan yang sulit untuk diperbaiki kembali.

Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT) adalah kegiatan pencatatan dan pengukuran pohon dan permudaan alam pada areal tegakan tinggal untuk mengetahui antara lain: komposisi jenis, penyebaran dan kerapatan pohon, jumlah dan tingkat kerusakan pohon inti. Maksud dari pelaksanaan ITT adalah untuk mengetahui jumlah, jenis dan mutu pohon inti dan permudaan yang rusak. ITT juga untuk mengetahui lokasi dan luas areal-areal terbuka/kurang permudaan pada petak kerja setelah penebangan.

Di bawah ini saya cantumkan beberapa literatur penelitian:

KAJIAN SISTEM SILVIKULTUR DAN PERTUMBUHAN HUTAN BEKAS
TEBANGAN PADA BERBAGAI TIPE HUTAN DI SUMATERA BAGIAN UTARA

Keanekaragaman Jenis Anakan Tingkat Semai dan Pancang di Hutan Alam

ANALISIS NILAI TEGAKAN HUTAN ALAM (Analysis of Stumpage Value for Natural Forest)

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN

Dampak Pemanenan kayu Berdampak Rendah Terhadap Kerusakan Tegakan Tinggal di Hutan Alam

Mengeksplorasi keanekaragaman hayati, lingkungan dan pandangan masyarakat lokal mengenai berbagai lanskap hutan.

Metode-metode penilaian lanskap secara multidisipliner

Keprihatinan dunia terhadap hutan hujan tropis banyak bersumber pada kekhawatiran akan berbagai kepunahan besar yang akan segera terjadi. Berbagai upaya yang sungguh-sungguh telah difokuskan pada identifikasi lokasi-lokasi terpenting yang memerlukan pengelolaan yang sensitif. Survei keanekaragaman hayati telah menjadi kegiatan utama lembaga-lembaga konservasi dan semakin banyak dicakup dalam kegiatan penilaian dampak. Namun, informasi yang dihasilkan biasanya tidak  memberikan dampak yang berarti, karena sebagian besar keputusan yang diambil mencerminkan bahwa kepentingan lain masih mendapat prioritas. Gagasan bahwa ‘setiap spesies harus dipertahankan berapapun biayanya’ bukan merupakan pandangan yang dianut oleh para pembuat keputusan. Keseimbangan antara tujuan melestarikan ‘keanekaragaman hayati’ dengan berbagai kebutuhan lainnya dalam berbagai keputusan yang diambil dapat dicapai jika nilai dan pilihan para pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya masyarakat yang hidupnya mengandalkan hutan setempat, diperhitungkan. Bagi banyak pemangku kepentingan, khususnya perusahaan komersial seperti HPH dan perusahaan pertambangan, motivasi mereka relatif jelas dan mudah dikomunikasikan. Namun, bagi masyarakat indigenos di desa-desa, berbagaikebutuhan dan pandangan mereka tetap terselubung bagi sebagian besar orang luar, kecuali dilakukan suatu upaya khusus untuk menyingkapkannya (Scott

1998).

Apakah ada solusinya? Idealnya, pengetahuan yang terperinci seharusnya diperoleh melalui pendekatan pribadi secara langsung, tetapi Keprihatinan dunia terhadap hutan hujan tropis banyak bersumber pada kekhawatiran akan berbagai kepunahan besar yang akan segera terjadi. Berbagai upaya yang sungguh-sungguh telah difokuskan pada identifikasi lokasi-lokasi terpenting yang memerlukan pengelolaan yang sensitif. Survei keanekaragaman hayati telah menjadi kegiatan utama lembaga-lembaga

konservasi dan semakin banyak dicakup dalam kegiatan penilaian dampak. Namun, informasi yang dihasilkan biasanya tidak memberikan dampak yang berarti, karena sebagian besar keputusan yang diambil mencerminkan bahwa kepentingan lain masih mendapat prioritas. Gagasan bahwa ‘setiap spesies harus dipertahankan berapapun biayanya’ bukan merupakan pandangan yang dianut oleh para pembuat keputusan. Keseimbangan antara tujuan melestarikan ‘keanekaragaman hayati’ dengan berbagai kebutuhan lainnya dalam berbagai keputusan yang diambil dapat dicapai jika nilai dan pilihan para pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya masyarakat yang hidupnya mengandalkan hutan setempat, diperhitungkan. Bagi banyak pemangku kepentingan, khususnya perusahaan komersial seperti HPH dan perusahaan  pertambangan, motivasi mereka relatif jelas dan mudah dikomunikasikan. Namun, bagi masyarakat indigenos di desa-desa, berbagai kebutuhan dan pandangan mereka tetap terselubung bagi sebagian besar orang luar, kecuali dilakukan suatu upaya khusus untuk menyingkapkannya (Scott 1998).

Apakah ada solusinya? Idealnya, pengetahuan yang terperinci seharusnya diperoleh melalui pendekatan pribadi secara langsung, tetapi mengurangi perbedaan pengertian, untuk memberikan ringkasan yang dapat dipahami mengenai permasalahan yang ada di daerah itu dengan menentukan apa yang penting, untuk siapa, seberapa banyak dan mengapa; dan dihasilkan suatu cara untuk menjadikan pilihan-pilihan masyarakat setempat ini lebih relevan dengan proses pengambilan keputusan. Sebagai suatu cara untuk mengkaji berbagai kepentingan dan nilai lanskap serta sumber daya alam, kami mengembangkan serangkaian metode survei untuk mengidentifikasi apa yang ‘penting’ bagi masyarakat lokal di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, Indonesia. Informasi ini menyajikan sebuah dasar diagnosa awal untuk mengembangkan dialog yang lebih mendalam dengan masyarakat setempat, untuk memandu penelitian selanjutnya dan membuat rekomendasirekomendasi

terhadap berbagai pilihan tentang penggunaan lahan dan kebijakan bagi para pembuat keputusan.

Lokasi

Ketika CIFOR didirikan pada tahun 1993, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menyediakan sebuah kawasan hutan di mana CIFOR dapat melakukan penelitian jangka panjang. Sebuah kawasan di Kalimantan Timur akhirnya dipilih (lihat Gambar 1). Kawasan tersebut terletak di 3º LU, 2º45’ sampai 3º21’ Bujur Utara dan 115º48’ sampai 116º34’ Bujur Timur, berbatasan dengan Taman Nasional Kayan-Mentarang, dan terhampar di tengah kawasan hutan hujan terbesar yang masih tersisa di kawasan tropis Asia (lebih dari 5 juta hektar meliputi kawasan di Kalimantan Tengah dan Timur, Sarawak dan Sabah). Kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan CIFOR ini menunjukkan sebuah komitmen kerja sama yang jelas untuk mengembangkan dan menerapkan penelitian yang relevan dengan kebijakan.

Masyarakat indigenos di DAS Malinau terdiri dari beberapa kelompok Dayak, yaitu Merap, Punan, Kenyah, dan beberapa kelompok lainnya. Ada juga sekelompok kecil imigran yang berpengaruh. Di desa-desa tertentu jumlah pendatang berkembang pesat, karena sebagian besar HPH mengandalkan mereka sebagai pekerjanya. Di dalam kelompok Dayak, hak tradisional berkaitan dengan lahan dalam dua cara yang berbeda, yaitu kepemilikan lahan keluarga secara individu atau lahan milik masyarakat. Kebijakan pemerintah seperti pemberian HPH telah lama tidak mengindahkan klaim masyarakat tradisional. Tekanan yang timbul antara kepemilikan lahan oleh negara dan sistem-sistem tradisional merupakan salah satu tantangan terbesar yang terjadi di banyak kawasan di dunia. Seluruh kawasan hutan dibagi menurut aturan tradisional. Namun, pemerintah telah mengalokasikan sebagian besar kawasan untuk HPH tanpa mempedulikan klaim yang sudah ada sebelumnya. Kebijakan-kebijakan pemerintah di masa lalu lebih berpihak pada HPH daripada hak-hak tradisional dan sebagian besar kawasan secara resmi ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi. Beberapa kawasan yang lebih curam ditetapkan sebagai hutan lindung, namun pengalokasian ini ternyata dilakukan dengan serampangan. Sebagian besar kawasan yang lebih mudah dijangkau telah dibalak atau dalam waktu dekat akan dibalak, termasuk banyak kawasan hutan lokal.

sumber : CIFOR 2004

Sekian dulu cuplikannya (cuplikan koq banyak) untuk lebih lengkapnya silakan download aja pdf nya gratis…

Mengeksplorasi keanekaragaman hayati, lingkungan dan pandangan masyarakat lokal mengenai berbagai lanskap hutan

Tulisan ini saya kutip dari :

Siti Latifah
Jurusan Kehutanan
Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan).

Dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang beersangkut paut dengan sumber daya alam dikenal dua jenis/tipe pengukuran untuk mendapatkan informasi/data yang diinginkan. Kedua jenis
pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destruktive measure) dan pengukuran yang tidak merusak (non destructive measure). Untuk keperluan penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan contoh (sampling unit), apabila bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas.Dengan sampling seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi penuh (metode sensus) pada anggota suatu populasi.

Supaya data penelitian yang akan diperoleh bersifat valid, maka sebelum melakukan penelitian dengan metode sampling kita harus menentukan terlebih dahulu tentang metode sampling yang akan digunakann, jumlah, ukuran dan peletakkan satuan satuan
unit contoh. Pemilih metode samplingyang akan digunakan bergantung pada keadaan morfologi jenis tumbuhan dan penyebarannya, tujuan penelitian dan biaya serta tenaga yang tersedia.

Berdasarkan data pengukuran pada unit contoh tersebut dapat diketahui jenis dominan dan kodominan, pola asosiasi, nilai keragaman jenis, dan atribut komunitas tumbuhan lainnya yang berguna bagi pengelolaan hutan.

Untuk mempermudah kegiatan analisis vegetasi hutan alam maka perlu disiapkan bahan dan alat sebagai berikut :
1. Menetapkan ekosistem hutan alam pada berbagai formasi
2. Menyediakan peta lokasi, peta kerja dan atau peta penutupan lahan (peta penafsiran vegetasi)
3. Tali plastik (60 m per regu)
4. Alat ukur tinggi pohon seperti Haga meter atau chrysten meter
5. Alat ukur diameter pohon seperti : Diameter tape (phi band) atau pita meter 100 cm
6. Meteran 10 m atau 20 m
7. Patok dengan tinggi 1 (satu) meter, dimana ujung bawah runcing dan ujung atas sepanjang 3 cm dicat merah putih
8. Tally sheet dan alat tulis menulis
9. Kompas
10. Pengenal jenis pohon
Setelah bahan dan alat yang diperlukan tersedia maka kegiatan di lapangan dilakukan sebagai berikut :
1. Kegiatan analisis vegetasi dilakukan secara berkelompok. Kelompok ini terdiri dari pembersih areal, penunjuk arah, pengukur pohon, pengenal pohon, dan pembawa perbekalan.
2. Menentukan lokasi jalur yang akan disurvei (unit contoh) di atas peta, panjang masing-masing jalur ditentukan berdasarkan lebar hutan (dalam survei ini panjang jalur 500 meter per regu). Jalur dibuat dengan arah tegak lirus kontur (memotong garis kontur).
3. Membuat contoh unit jalur
4. Mengidentifikasi jeniss dan jumlah serta mengukur diameter (DBH) dan tinggi (tinggi total dan bebas cabang) untuk tingkat tiang dan pohon. Sedangkan untuk tingkat semai dan panjang hanya mengidentifikasi jenis dan jumlahnya saja.
Data hasil pengukuran dicatat dalam tally sheet. Dalam kegiatan survei ini digunakan kriteria pertumbuhan sbb :
a. Semai adalah anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi < 1,5 meter
b. Pancang adalah anakan pohon yang tingginya > 1,5 cm dan diameter < 7 cm
c. Tiang adalah pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai diameter < 20 cm
d. Pohon adalah pohon dewasa berdiameter > 20 cm
Khusus untuk hutan manggrove petak contoh pohon dan tiangnyaa 10 X 10 m.

lENGKAPNYA SILAKAN LIHAT DI:

http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.