Skip navigation

Mengeksplorasi keanekaragaman hayati, lingkungan dan pandangan masyarakat lokal mengenai berbagai lanskap hutan.

Metode-metode penilaian lanskap secara multidisipliner

Keprihatinan dunia terhadap hutan hujan tropis banyak bersumber pada kekhawatiran akan berbagai kepunahan besar yang akan segera terjadi. Berbagai upaya yang sungguh-sungguh telah difokuskan pada identifikasi lokasi-lokasi terpenting yang memerlukan pengelolaan yang sensitif. Survei keanekaragaman hayati telah menjadi kegiatan utama lembaga-lembaga konservasi dan semakin banyak dicakup dalam kegiatan penilaian dampak. Namun, informasi yang dihasilkan biasanya tidak  memberikan dampak yang berarti, karena sebagian besar keputusan yang diambil mencerminkan bahwa kepentingan lain masih mendapat prioritas. Gagasan bahwa ‘setiap spesies harus dipertahankan berapapun biayanya’ bukan merupakan pandangan yang dianut oleh para pembuat keputusan. Keseimbangan antara tujuan melestarikan ‘keanekaragaman hayati’ dengan berbagai kebutuhan lainnya dalam berbagai keputusan yang diambil dapat dicapai jika nilai dan pilihan para pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya masyarakat yang hidupnya mengandalkan hutan setempat, diperhitungkan. Bagi banyak pemangku kepentingan, khususnya perusahaan komersial seperti HPH dan perusahaan pertambangan, motivasi mereka relatif jelas dan mudah dikomunikasikan. Namun, bagi masyarakat indigenos di desa-desa, berbagaikebutuhan dan pandangan mereka tetap terselubung bagi sebagian besar orang luar, kecuali dilakukan suatu upaya khusus untuk menyingkapkannya (Scott

1998).

Apakah ada solusinya? Idealnya, pengetahuan yang terperinci seharusnya diperoleh melalui pendekatan pribadi secara langsung, tetapi Keprihatinan dunia terhadap hutan hujan tropis banyak bersumber pada kekhawatiran akan berbagai kepunahan besar yang akan segera terjadi. Berbagai upaya yang sungguh-sungguh telah difokuskan pada identifikasi lokasi-lokasi terpenting yang memerlukan pengelolaan yang sensitif. Survei keanekaragaman hayati telah menjadi kegiatan utama lembaga-lembaga

konservasi dan semakin banyak dicakup dalam kegiatan penilaian dampak. Namun, informasi yang dihasilkan biasanya tidak memberikan dampak yang berarti, karena sebagian besar keputusan yang diambil mencerminkan bahwa kepentingan lain masih mendapat prioritas. Gagasan bahwa ‘setiap spesies harus dipertahankan berapapun biayanya’ bukan merupakan pandangan yang dianut oleh para pembuat keputusan. Keseimbangan antara tujuan melestarikan ‘keanekaragaman hayati’ dengan berbagai kebutuhan lainnya dalam berbagai keputusan yang diambil dapat dicapai jika nilai dan pilihan para pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya masyarakat yang hidupnya mengandalkan hutan setempat, diperhitungkan. Bagi banyak pemangku kepentingan, khususnya perusahaan komersial seperti HPH dan perusahaan  pertambangan, motivasi mereka relatif jelas dan mudah dikomunikasikan. Namun, bagi masyarakat indigenos di desa-desa, berbagai kebutuhan dan pandangan mereka tetap terselubung bagi sebagian besar orang luar, kecuali dilakukan suatu upaya khusus untuk menyingkapkannya (Scott 1998).

Apakah ada solusinya? Idealnya, pengetahuan yang terperinci seharusnya diperoleh melalui pendekatan pribadi secara langsung, tetapi mengurangi perbedaan pengertian, untuk memberikan ringkasan yang dapat dipahami mengenai permasalahan yang ada di daerah itu dengan menentukan apa yang penting, untuk siapa, seberapa banyak dan mengapa; dan dihasilkan suatu cara untuk menjadikan pilihan-pilihan masyarakat setempat ini lebih relevan dengan proses pengambilan keputusan. Sebagai suatu cara untuk mengkaji berbagai kepentingan dan nilai lanskap serta sumber daya alam, kami mengembangkan serangkaian metode survei untuk mengidentifikasi apa yang ‘penting’ bagi masyarakat lokal di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, Indonesia. Informasi ini menyajikan sebuah dasar diagnosa awal untuk mengembangkan dialog yang lebih mendalam dengan masyarakat setempat, untuk memandu penelitian selanjutnya dan membuat rekomendasirekomendasi

terhadap berbagai pilihan tentang penggunaan lahan dan kebijakan bagi para pembuat keputusan.

Lokasi

Ketika CIFOR didirikan pada tahun 1993, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menyediakan sebuah kawasan hutan di mana CIFOR dapat melakukan penelitian jangka panjang. Sebuah kawasan di Kalimantan Timur akhirnya dipilih (lihat Gambar 1). Kawasan tersebut terletak di 3º LU, 2º45’ sampai 3º21’ Bujur Utara dan 115º48’ sampai 116º34’ Bujur Timur, berbatasan dengan Taman Nasional Kayan-Mentarang, dan terhampar di tengah kawasan hutan hujan terbesar yang masih tersisa di kawasan tropis Asia (lebih dari 5 juta hektar meliputi kawasan di Kalimantan Tengah dan Timur, Sarawak dan Sabah). Kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan CIFOR ini menunjukkan sebuah komitmen kerja sama yang jelas untuk mengembangkan dan menerapkan penelitian yang relevan dengan kebijakan.

Masyarakat indigenos di DAS Malinau terdiri dari beberapa kelompok Dayak, yaitu Merap, Punan, Kenyah, dan beberapa kelompok lainnya. Ada juga sekelompok kecil imigran yang berpengaruh. Di desa-desa tertentu jumlah pendatang berkembang pesat, karena sebagian besar HPH mengandalkan mereka sebagai pekerjanya. Di dalam kelompok Dayak, hak tradisional berkaitan dengan lahan dalam dua cara yang berbeda, yaitu kepemilikan lahan keluarga secara individu atau lahan milik masyarakat. Kebijakan pemerintah seperti pemberian HPH telah lama tidak mengindahkan klaim masyarakat tradisional. Tekanan yang timbul antara kepemilikan lahan oleh negara dan sistem-sistem tradisional merupakan salah satu tantangan terbesar yang terjadi di banyak kawasan di dunia. Seluruh kawasan hutan dibagi menurut aturan tradisional. Namun, pemerintah telah mengalokasikan sebagian besar kawasan untuk HPH tanpa mempedulikan klaim yang sudah ada sebelumnya. Kebijakan-kebijakan pemerintah di masa lalu lebih berpihak pada HPH daripada hak-hak tradisional dan sebagian besar kawasan secara resmi ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi. Beberapa kawasan yang lebih curam ditetapkan sebagai hutan lindung, namun pengalokasian ini ternyata dilakukan dengan serampangan. Sebagian besar kawasan yang lebih mudah dijangkau telah dibalak atau dalam waktu dekat akan dibalak, termasuk banyak kawasan hutan lokal.

sumber : CIFOR 2004

Sekian dulu cuplikannya (cuplikan koq banyak) untuk lebih lengkapnya silakan download aja pdf nya gratis…

Mengeksplorasi keanekaragaman hayati, lingkungan dan pandangan masyarakat lokal mengenai berbagai lanskap hutan

2 Comments

  1. contoh splusi yang merupakan konservasi keanekaragaman hayati kog gak terlalu jelas dan tak disertai gamabar

    • makasih atas masukannya mas…
      kalo mau lengkap ulasan n solusinya silakan di download aja versi PDF-nya…
      di dalemnya dah dijelasin semua koq…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: